Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget



Riwayat Hidup H. Sudirman Syair Bag. 1

RIWAYAT HIDUP H. SUDIRMAN SYAIR


H. Sudirman Syair, Amd. Dt. Samulo Nan Balopiah Berziarah ke Surau Baru Mungka

BERZIARAH KE MAKAM SYEKH MUHAMMAD SA’AD AL-KHALIDI MUNGKA

Di pertengahan tahun 2020, setelah melaksanakan shalat Ashar di masjid Assaadi Mungka, saya berziarah ke makam guru saya, Almarhum Syekh Muhammad Djamil Sa’adi anak dari Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka guru para ulama Aswaja Minangkabau pada Senin 15 Juni 2020 / 23 Syawal 1441 H. Makam beliau berdua terletak di samping masjid Assaadi Koto Tuo Mungka kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Saya H. Sudirman Syair, Amd Dt. Samulo Nan Balopiah (ketika itu usia 68 th.), merasa haru meneteskan air mata sembari berucap syukur ke hadirat Allah SWT. Teringat zaman dahulunya, semasa saya usia remaja, umur 15 tahun, sekitar tahun 1966, ketika itu saya diserahkan oleh abah saya Muhammad Syair bersekolah di sini di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI Surau Baru) Mungka menimba ilmu agama kepada Syekh Muhammad Djamil Sa’adi, ustazd Syarkawi Bur, ustazd H. Zubir Dt. Bujang Nan Hitam beserta guru-guru lainnya di sini yang ‘alim lagi zuhud.

Di sinilah bermula semua  pengembaraan intelektual saya, hingga kemudian sampailah saya kepada usaha pengembangan pendidikan Agama Islam yang mewarisi semangat Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka. Lembaga itu saya beri nama dengan “Pondok Pesantren Ma’arif Assa’adiyah” yang bertempat di Batu Nan Limo nagari Koto Tangah Simalanggang kecamatan Payakumbuh Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Dulu ketika Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka wafat, anak beliau Syekh Muhammad Djamil Sa’adi masih kecil. Saya bertemu dan belajar dengan Syekh Muhammad Djamil Sa’adi itu adalah ketika beliau sudah berusia sepuh juga.

Ayah beliau Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka (1857-1922) adalah salah seorang ulama besar terkemuka di Minangkabau yang menjadi Tokoh Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah dan menjadi salah seorang guru dari ulama-ulama besar Minangkabau di masanya.

KH. Siradjuddin Abbas (1905 - 1980) mengatakan: ”Sewaktu usia remaja ia pernah mengikuti pelajaran tareqat dengan beliau ini di Munka Payakumbuh setiap hari Arba’a (Rabu). Dalam mengiringkan ulama-ulama besar Minangkabau yang belajar kepada beliau tiap-tiap Arba’a tersebut terlihat oleh mata kepala kami sendiri yang belajar ke sana adalah Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Syekh Abbas Ladang Lawas Bukittinggi, Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang, Syekh Abdurrasyid Parambahan Payakumbuh, Syekh Abdul Madjid Koto Nan Gadang Payakumbuh, Syekh Ahmad Baruah Gunung Suliki, Syekh Arifin Batu Hampar Payakumbuh, Syekh Yahya el-Khalidi Magek Bukittinggi dan banyak lagi yang lainnya. ”[Chairusdi & Mulyani, "Mengenal Syekh Saad Mungka (1857-1942)", http://www.tobapos.com/2016/05/mengenal-syekh-saad-mungka-1857-1942.html/(diakses pada: 30 Juli 2020, pukul 11.30)]

Syekh Muhammad Saad al-Khalidiy Mungka dikenal dalam khazanah intelektual muslim nusantara (khususnya kazanah intelektual muslim Minangkabau) sebagai mahaguru terbesar tariqat Naqsyabandiah-Khalidiyah sesudah Syekh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi. Syekh Sa’ad Mungka dilahirkan di jorong Koto Tuo Kenagarian Mungka pada tahun 1859 M/1277 H dari pesukuan Kuti Anyir Pitopang Payakumbuh Luak Limo Puluah Minangkabau. Secara genetik, Syekh Saad Mungka merupakan keturunan ulama. Beliau anak dari ulama setempat yang bernama Muhammad Tanta’ yang disegani dan dihormati karena kepribadian, kedalaman ilmu, kewibawaan dan dedikasinya terhadap kampung halamannya. Nama kecil Syekh Saad Mungka adalah Anggun. Beliau memiliki saudara sebanyak 3 orang, yaitu Husin, Sulaiman dan Simba. Salah seorang saudaranya tersebut yaitu Simba, melahirkan 4 orang putra dan putri. Kelak salah seorang putri dari Simba yang bernama Nuriyah menjadi menantu Syekh Muhammad Sa’ad yaitu istri anak beliau yang bernama Muhammad Jamil Sa’adi.”[Ibid]

H. Jamil Sa’adi punya anak yang bernama Hasan Basri, Hasan Basri itu punya anak namanya Halim Sa’adi. Saya pernah pergi dengan Halim Sa’adi dan ustazd Dahimir ke Magek Bukittinggi, menjumpai Buya Yunus Yahya Magek pengarang 100 ulama Ahlusunnah wal Jama’a h di Sumatera Barat. Waktu itu beliau sudah terbaring saja di tempat tidur tetapi masih sempat bercerita. Kata beliau “bahwa dulu sekali tiga bulan diadakan reuni di Surau Baru Mungka itu, datang dari berbagai daerah bahkan kata beliau sesekali tiga bulan itu membantai kambing sebagai jamuan”. Beliau dengan ayahnya juga berguru dengan Syekh Muhammad Sa’ad Al-Khalidi itu.

Seorang Filolog muda Nusantara saat ini pembela Aswaja Apria Putra di blog “Surau Tuo”  (2011) menuliskan bahwa: “Syekh Muhammad Sa’ad Mungka setiba di kampung halaman, Mungka, beliau mendirikan sebuah surau bertingkat dua yang dinamai dengan Surau Baru. Surau ini menjadi terkemuka, dan menarik banyak orang-orang siak dari berbagai penjuru Minangkabau. Banyak diantara murid-muridnya menjadi ulama besar dikemudian hari. Sebahagian besar ulama-ulama Tua yang mengikuti pergolakan awal abad XX tersebut merupakan hasil didikan beliau ini.”[Apria Putra, "Al-Marhum Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka Tuo (W. 1922) dan Polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Mufti Mekah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (W. 1916)", http://surautuo.blogspot.com/2011/12/al-marhum-syekh-muhammad-saad-al.html/(diakses pada: 30 Juli 2020, pukul 13.20)]

Apria Putra mengatakan bahwa “Syekh Muhammad Sa’ad Mungka mengasuh suatu lembaga majelis taklim yang diberi nama dengan “Mawaahiburrahman wa Tuhfatul Ikhwan”. Diantara yang diajarkan dalam majelis itu adalah kitab Tuhfatul Muhtaj 9 Jilid, kemudian Ithaf Saadatul Muttaqin 12 jilid, semuanya kitab-kitab tinggi. Murid-muridnya yang kemudian hari menjadi ulama-ulama besar itu berkumpul dan belajar bersama beliau di majelis taklim itu. Tempatnya adalah di Surau Baru. Surau itu kan dua tingkat, yang bagian bawahnya untuk mengaji yang bagian atas tempat orang shalat. Letak Surau Baru itu pas di lokasi masjid Sa’adi sekarang, dulu ada menaranya itu.”

“Dalam bidang intelektual, beliau dituakan diantara ulama-ulama Tua. Pernah, sebelum wafatnya beliau menjadi pendiri dan penasehat Ittihad Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) bersama dengan ulama-ulama besar lainnya seperti Syekh Abdullah Halaban (w. 1926). Dalam tulis menulis, beliau juga dikenal mahir mengarang dalam bahasa Arab, apalagi dalam Jawi. Karangan-karangan beliau konon cukup banyak.”[Wawancara dengan Apria Putra di Mungo pada Selasa malam, 16 Juni 2020]

Apria Putra blog “Surau Tuo” (2014) menyebutkan “Catatan Harian Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka menuliskan bahwa “Beliau meninggalkan satu cacatan yang ditulis ketika lembaga pendidikan tradisional yang beliau dirikan mencapai titik kejayaan pada awal abad 20. Catatan harian beliau terdiri dari beberapa halaman folio. Kertas yang digunakan ialah lokal bergaris. Catatan ini ditulis beberapa tahun sebelum beliau wafat pada 1922.”

“Catatan ini berisi hal-hal menarik seputar pribadi ulama ini, antara lain: 1). Tanggal wafat urangsiak yang belajar di Surau Baru Mungka. 2.) Tanggal penting seputar aktivitas beliau ke Makkah, kehidupan keluarga, dan catatan ladang dan sawah. 3). Tanggal didirikan surau Mungka, mencakup kapan mulai menebang kayu, kapan mulai dibangun, dan kapan selesainya. 4). Tanggal penyimpanan uang, beserta nama dan jumlahnya dalam rupiah (zaman Belanda).”[Apria Putra, "Catatan Harian Ulama Minangkabau (Bagian 1): Catatan Harian Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka (w. 1922) yang dimasyhurkan dengan "Baliau Surau Baru" atau "Baliau Mungka", http://surautuo.blogspot.com/2014/08/catatan-harian-ulama-minangkabau-bagian.html(diakses pada: 30 Juli 2020, pukul 14.30)]

Melalui Chairusdi (2006), Mulyani (1990) sebagaimana yang dipublikasikan Tobapos pada tahun 2016 Apria Putra menyebutkan “Mungkin ini pula yang menyebabkan Syekh Saad Mungka menjadi guru besar tareqat di Minangkabau, walaupun kawan-kawannya pada masa beliau sama-sama menuntut ilmu agama di Mekkah, banyak yang berada pada posisi berseberangan bahkan konfrontatif dengan tareqat. Hal ini tidak terlepas dari interaksi Syekh Saad Mungka dengan ulama-ulama tareqat besar di Mekkah, dan beliau tidak belajar pada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi – sang penentang tareqat tersebut. Sementara kawan-kawannya yang lain justru berada dibawah bimbingan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Jadi tidaklah megherankan apabila kemudian Syekh Saad Mungka dikenal sebagai ulama pembela tareqat (khususnya tareqat Naqsyabandiah-Khalidiyah).

Disamping ulama-ulama tersebut diatas, beberapa sumber juga mengatakan bahwa banyak juga ulama-ulama Minangkabau yang memiliki pengaruh dan nama besar di Minangkabau, pernah berguru pada Syekh Saad Mungka, diantaranya Syekh Muhammad Jamil Djaho, Syekh Makhudum dari Solok, Syekh Sulaiman Gani dari Magek, Syekh Abdul Majid dari Payakumbuh, Syekh Abdul Tamim dari Koto Baru Agam, Syekh Muhammad dari Sarilamak Payakumbuh, Syekh Daramin dari Lipat Kain Kampar Riau dan ulama-ulama lainnya dari luar Payakumbuh juga pernah belajar pada Syekh Mungka ini. Konon kabarnya Syekh Abdullah Halaban, seorang ulama tua kharismatik yang sebaya dengan beliau juga pernah mengakui kealiman Syekh Saad Mungka. Kehadiran Syekh Saad Mungka dalam khazanah sejarah pemikiran Islam Minangkabau, identik dengan tareqat.”[Chairusdi & Mulyani, "Mengenal Syekh Saad Mungka (1857-1942)", http://www.tobapos.com/2016/05/mengenal-syekh-saad-mungka-1857-1942.html/(diakses pada: 30 Juli 2020, pukul 15.00)]

“Sudah menjadi tradisi sejak lama di Minangkabau, mayoritas para ulama tersebut mengamalkan dan memiliki konsistensi yang konsisten terhadap tareqat (baik Syatariyah maupun Naqsyabandiah). Namun banyak juga yang memposisikan diri mereka pada posisi yang ”berseberangan”. Ada dua mainstream besar yang terdapat dalam sejarah intelektual keagamaan (Islam) di Minangkabau pada masa ini. Sebagian orang tetap dengan tekun dan konsisten mengamalkan tareqat dan pada pihak lain memandangnya sebagai bid’ah. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi gigih sekali dalam membid’ahkan tareqat. Namun pendapat Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ini juga banyak mendapat tantangan. Tantangan tersebut bahkan juga dari para murid-muridnya.”

“Bentuk konsistensi Syekh Saad Mungka dalam mempertahankan amalan dan ajaran tareqat terefleksi dan terlihat dari kitab yang dikarangnya. Kitab-kitab tersebut lebih tepatnya merupakan refleksi dari keteguhan hati seorang Syekh Saad Mungka membela tareqat naqsyabandiah yang ditujukannya kepada sang penentang – Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Kitab-kitab tersebut juga merupakan ”dialog-intelektual” produktif antara Syekh Saad Mungka dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang kelak memberikan pencerahan bagi orang-orang yang suka dan tidak suka terhadap tareqat pada masa mereka dan pada masa belakangan. Ada dua kitab yang dikarang oleh Syekh Saad Mungka:

  1. Irghaamu Unuufil Muta’annitiina fii Inkarihim Rabhithatil Washiliin yang merupakan sanggahan dari kitab karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang berjudul Iz-haaru Zaghlil Kaazibiina fii Tasyabbuhihim Bish Shadiqiin.
  2. Setelah Syekh Saad Mungka menyanggah melalui kitab pertamanya di atas tersebut, maka Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi menyanggah pula dalam kitabnya yang berjudul Al-Aayatul Baiyinati lil Munsyifiina fii Izaalati Khaurafati Ba’dhil Muta’ash-shibiina. Selanjutnya kitab ini dibantah Syekh Saad Mungka dengan kitabnya yang kedua berjudul Tanbihuul ’Awaami ’ala Taqrirrati Ba’dhil Anaami.

“Selain dua kitab monumental ini, Syekh Saad Mungka juga mengarang beberapa kitab lainnya, terutama dalam bahasa Arab. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa Syekh Saad Mungka merupakan satu-satunya ulama Minangkabau pada masanya yang memiliki ilmu setaraf dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, walaupun kedudukan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi lebih prestisius – imam dan khatib di Masjidil Haram Mekkah. Syekh Mungka-lah satu-satunya ulama Minangkabau yang mampu berpolemik secara intens mengenai tareqat secara ”elegan-intelek” dan berani dengan ulama besar sekaliber Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi tersebut.”

“Selain catatan ini, dalam kitab-kitab yang beliau muthala’ah, mencakup kitab-kitab besar seperti Tuhfah, Nihayah, Tafsir Jamal Jalalain, Qamus Muhith, Ittihaf Saadat al-Muttaqin, Iqna’ Khatib Syarbaini, Fatawa Kubra Ibnu Hajar al-Haitami, I’anatut Thalibin, Ghayah al-Wusul, al-Maktubat Imam Rabbani, dan lain-lain, beliau cermat menulis kapan mulai memuthala’ah (mempelajarinya) dan kapan selesainya. Selain itu, pada sampul beberapa kitab dituliskan mimpi-mimpi beliau, beserta tanggal, bulan, dan tahunnya” kata Apria Putra.

Selanjutnya di blognya “Surau Tuo”[www.surautuo.blogspot.com] itu Apria Putra menyebutkan pula “Syekh Saad Mungka berhasil pula mencetak kader-kader tareqat (khususnya tareqat Naqsyabandiah), diantaranya Syekh Yahya al-Khalidi – yang ”terang dan jelas” mencantumkan label Al-Khalidi dibelakang namanya. Syekh Yahya al-Khalidi lebih tua kira-kira satu tahun dari Syekh Saad Mungka.”

“Selain Syekh Yahya al-Khalidi, murid Syekh Saad Mungka yang namanya cukup terkenal dalam ”ranah tareqat” adalah Syekh Muhammad Arifin Arsyadi Batuhampar Payakumbuh (Wafat 1938), anak dari Syekh Arsyad, cucu dari Syekh Abdurrahman Batuhampar. Terkemuka sebagai salah seorang ulama besar PERTI. Beliau memimpin surau Batu Hampar dari tahun 1924 hingga 1938. Selain itu beliau juga mendirikan MTI Batu Hampar dengan sistem modern ketika itu yaitu berupa klasikal. Madrasah ini ramai juga dikunjungi orang-orang siak ketika itu. Begitu Syekh Arsyad (ayah beliau) wafat pada tahun 1924, perannya sebagai pendidik ilmu agama sekaligus Datuak Oyah-nya warga Batuhampar digantikan oleh beliau sendiri. Syekh Muhammad Arifin  amat dihormati oleh PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) di Ranah Minang.”[Ibid]

Dikutip dari tulisan F. Malin Parmato yang berjudul “Mengenal Syekh Muhammad Sa’ad Al-Khalidi Mungka Guru Para Ulama Minangkabau” di blognya hawaaliynews[    www.hawaaliynews.blogspot.com] (2019) juga menyebutkan bahwa “salah seorang murid dari Syekh Sa’ad Mungka dari Canduang Agam yaitu Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang yang kemudian hari menjadi seorang tokoh ulama golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan mazhab Syafi'i. Syekh Sulaiman Arrasuli lahir di Candung Sumatera Barat pada tahun 1287 H / 1871 M dan wafat juga di Canduang pada 29 Jumadil awal 1390 H / 1 Agustus 1970 M. Sepulang belajar dari Mekkah pada tahun 1908 beliau mengajarkan ilmunya di Surau Baru Pakan Kamis Canduang yang kemudian pada tanggal 5 Mei 1928 berubah berbentuk klasikal yang diberi nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang. Kemudian bersama ulama lainnya beliau mendirikan Persatuan Tabriyah Islamiyah yang disingkat dengan PTI dan kemudian berubah lagi menjadi ORMAS Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang disingkat dengan PERTI. Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB NU) mencatat dan menghormati Syekh Sulaiman Arrasuli sebagai salah seorang tokoh ulama pengembang paham ahlussunnah di Sumatera Barat.”[Fitra Yadi, "Mengenal Syekh Muhammad Sa’Ad Al-Khalidi Mungka Guru Para Ulama Minangkabau", https://hawaaliynews.blogspot.com/2019/08/mengenal-syekh-muhammad-saad-al-khalidi.html/(diakses pada: 30 Juli 2020, pukul 19.00)]

Apria Putra juga menuliskan [Op.cit.]“murid Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka lainnya adalah Syekh Abbas Qadhi Bukittinggi. Nama kecilnya adalah Muhammad Abbas bin Wahab bin Abdul Hakim bin Abdul Gaffar. Ia lahir di Ladang Lawas sekitar 4 km dari Bukit Tinggi pada tahun 1285 H./ 1867 M., ada juga yang menyebutkan ia lahir kira-kira 1860-an. Syaikh Abbas memiliki dua orang saudara, yaitu H. Muhammad Datuk Bagindo Panghulu dan Syaikh Abdul Hamid, seorang ahli Tarekat Syattariyah. Ia belajar agama kepada seorang ulama di Biaro Bukittinggi yang dikenal dengan sebutan Tuanku Mudo. Bersama gurunya ini ia mengaji bermacam-macam kitab dengan sistim halaqah (duduk mengelilingi guru). Kemudian, pada tahun 1305 H./ 1887 M. ia naik haji dan belajar di Makkah selama beberapa tahun.”

“Kemudian K.H. Sirajuddin Abbas anak dari Syaik Abbas Qadhi Bukittinggi (kelahiran di Bengkawas, kabupaten Agam, kota Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Mei 1905 – meninggal 5 Agustus 1980 pada umur 75 tahun) merupakan seorang ulama, politisi dan menteri Indonesia. Sirajuddin Abbas dikenal sebagai seorang ulama Syafi'iyah dan tokoh utama Perti. Beliau juga pernah diserahi amanah sebagai Menteri Kesejahteraan Umum dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I dengan masa bakti dari tanggal 30 Juli 1953 sampai 12 Agustus 1955. Beliau menggantikan Sudibjo yang mengundurkan diri.”

“Selain itu, murid Syekh Saad Mungka yang namanya cukup terkenal dalam ”ranah tareqat” adalah Syekh Abdul Wahid ash-Shalihi. Beliau yang lahir di Jopang Manganti kecamatan Mungka kabupaten 50 Kota ini membuka pondok pesantren yang bernama MTI Tabek Gadang atau MTI Padang Jopang yang memiliki banyak murid.”

Selain dari jalur Syekh Muhammad Djamil Sa’adi, saya (Sudirman Syair) juga memiliki jalur keilmuan dari Syekh Abdul Wahid ash-Shalihi Tabek Gadang ini hingga sampai kepada Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka. Dari Syekh Abdul Wahid ash-Shalihi kemudian turun kepada salah seorang murid beliau yaitu Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang pimpinan MTI Koto Panjang Lampasi Payakumbuh. Setelah dua tahun belajar di MTI Surau Baru Mungka, pada tahun 1971 saya pindah ke MTI Koto Panjang belajar dengan Angku Lakuang dan guru-guru lainnya di sana sampai tamat kelas 7 pada tahun 1974.

Di situs tarbiyahislamiyah.id pada 14 Desember 2019 Apria Putra menceritakan bahwa “Syekh Muhammad Djamil Sa’adi ada berguru pula kepada Syekh Abdul Ghani Batu Basurek-Kampar. Syekh Abdul Ghani itu adalah salah seorang dari dua ulama besar ahli sufiyah penganut tarikat Naqsyabandiyah yang masyhur lagi terbilang pada masanya di Riau dan Ranah Minangkabau.”

“Dua ulama besar itu ialah Maulana Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi (1811-1926) dan Syekh Abdul Ghani Batu Basurek Kampar (1811-1961). Syekh Abdul Wahab terkenal murid-muridnya yang berasal dari orang awam hingga pejabat-pejabat pemerintahan. Sebaliknya, Syekh Abdul Ghani Batu Basurek terkenal dengan murid-muridnya yang berasal dari ulama-ulama belaka. Dua ulama besar Naqsyabandiyah inilah yang terkemuka di pantai Timur Sumatera kala itu”.

“Syekh Abdul Ghani termasuk tokoh sepuh Perti yang sangat dihormati. Pada tahun 1954 terjadi konfrensi tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi atas prakarsa Perti, dan salah seorang tokoh utama yang hadir ialah Syekh Abdul Ghani (waktu itu usia nya telah sepuh). Hasil-hasil konfrensi itu dibukukan dengan judul Risalah Tablighul Amanah fi Izalati Khurafat wa syubhah (KAHAMY, 1954). Syekh Abdul Ghani wafat tahun 1961 dalam usia yang sangat tua, 150 tahun, setelah berkhidmat lama menegakkan agama di Minangkabau umumnya. Usaha beliau dilanjutkan oleh anaknya yang juga alim yaitu Tengku ‘Aidrus Ghani”.[Apria Putra, "Syekh Abdul Ghani Batu Basurek-Kampar, Pemuka Ulama Naqsyabandiyah yang Terbilang di Riau dan Ranah Minangkabau", https://tarbiyahislamiyah.id/syekh-abdul-ghani-batu-basurek-kampar-pemuka-ulama-naqsyabandiyah-yang-terbilang-di-riau-dan-ranah-minangkabau/(diakses pada: 02 Agustus 2020, pukul 08.00)]

 

---------------------------------------------------------------

Baca Selanjutnya...

Riwayat Hidup H. Sudirman Syair Bag. 2


-------------------------------------------------------
Update terakhir
Ahad, 06 Desember 2020
Pukul 08.52 Wib. AM

 
 

Posting Komentar

0 Komentar