Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget



Sejarah Berdiri Pondok

 SEJARAH BERDIRINYA PONPES MA’ARIF AS-SA’ADIYAH BATU NAN LIMO

 

Murid-murid tinggal di rumah Ustazd Sudirman Syair

Ustazd Sudirman Syair, ketika itu berumur 38 tahun, sangat menikmati sekali profesinya sebagai pendidik di almamaternya MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) Koto Panjang. Ia amat disenangi oleh murid-muridnya. Dalam belajar ia menerapkan metode muzakarah (diskusi) dengan murid-muridnya. Ia juga sering melakukan mujadalah (berdebat). Ia sangat mendorong murid-muridnya untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam belajar terutama dalam membaca kitab gundul.

Sehingga dengan demikian banyak diantara murid-murid Tarbiyah Koto Panjang yang tertarik dan ikut tinggal dengan ustazd Sudirman Syair di rumahnya di Batu Nan Limo nagari Koto Tangah Simalanggang kecamatan Payakumbuh kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.

Pada tahun 1990 sampai 30 orang Anak Siak (pelajar sekolah agama) Tarbiyah (MTI) Koto Panjang tinggal bersamanya menempati bekas warung yang terletak di halaman rumahnya. Waktu itu Anak Siak belum ada diasramakan, hampir seribu orang Anak Siak Tarbiyah Koto Panjang tinggal menyebar menempati surau-surau, rumah guru, rumah penduduk di daerah sekitar Tarbiyah Koto Panjang.

Bersama istrinya Ibu Hasnida, ustazd Sudirman Syair membimbing pelajaran murid-murid yang tinggal di rumahnya itu dan mengarahkan ibadahnya. Ibu Hasnida ketika itu juga merupakan salah seorang guru di Tarbiyah Koto Panjang itu. Mereka berdua adalah alumni Tarbiyah Koto Panjang. Ustazd Sudirman Syair mendapat ijazah tamat dari kelas 7 Tarbiyah Koto Panjang pada tahun 1974, sedangkan ibu Hasnida pada tahun 1972. Duluan istrinya tamat 2 tahun darinya.

 

Membangun Surau

Terinspirasi dengan kondisi anak-anak Siak yang rela tinggal sesak di rumahnya, ustazd Sudirman Syair berkeinginan untuk memiliki Surau sebagai tempat tinggal anak-anak Siak itu. Sebagaimana ia dulu, semasa belajar di Tarbiyah Koto Panjang, ustaz Sudirman Syair tinggal di Surau Ongku Kotik dan Surau Buya Nawawi Guguak Nunang.

Untuk mewujudkan keinginan bersama itu, pada awal tahun 1990 ustazd Sudirman Syair membeli sebidang tanah seluas 450 m² di Batu Nan Limo, tidak jauh dari rumahnya untuk dibangun surau. Namun keinginan tersebut kandas karena lahan tersebut jauh ke dalam, susah dari akses jalan.

Hasil diskusi dengan keluarganya, lokasi pembangunan Surau itu dipindahkan ke belakang rumahnya. Ustazd Sudirman Syair meminta bantuan kepada Sasriadi (Edi), seorang tukang bangunan warga Batu Nan Limo untuk dibuatkan RAB (Rencana Anggaran Biaya) untuk pembangunan surau itu. RAB itu diketik dan ditanda-tangani oleh Sasriadi sebagai perancang dan Sudirman Syair sebagai penanggung-jawab.

Surau yang akan dibangun itu diberi nama dengan Mushalla Mawahiburrahman yang berasal dari nama suatu lembaga majelis taklim zaman dulu yang bernama Mawaahiburrahman wa Tuhfatul Ikhwan yang diasuh oleh Almarhum Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka (1857-1922) yang terletak di Surau Baru Koto Tuo Mungka. Kemudian hari Surau Baru itu dikembangkan menjadi MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) oleh Almarhum Syekh Muhammad Djamil Sa’adi anak dari Syekh Muhammad Sa’ad AL-Khalidi Mungka. Menjelang Syekh Muhammad Djamil wafat, Sudirman Syair sempat belajar di MTI Koto Tuo Mungka selama 2 tahun kemudian ia pindah ke MTI Koto Panjang.

Bermodalkan RAB itu, ustazd Sudirman Syair berencana akan mencari donasi untuk membangun surau. Ia menangkap suatu peluang untuk mencari donasi yaitu dengan cara turun berdakwah ke masjid dan mushalla berpidato memberi berceramah pada waktu libur panjang Tahun Ajaran 1989 / 1990 yaitu sekitar bulan Juni tahun 1990.

Melalui perantau Lima Puluh Kota, ustazd Sudirman Syair menemukan jalan untuk mencari donasi ke Riau. Ketika itu Riau dikenal kaya akan hasil minyak, dan perantau-perantaunya relatif berpunya daripada perantau di daerah lain.

Ustazd Sudirman Syair mengurus surat jalan untuk berangkat mencari donasi ke Riau, kota tujuannya adalah Duri, Dumai dan Pekanbaru. Kepala Desa Koto Tangah Simalanggang sangat mendukung rencana itu dan menanda-tangani surat izin yang diketahui oleh camat Payakumbuh, ketika itu camatnya adalah bapak Mukhlis, BA.

Di kota Duri, ustazd Sudirman Syair dibantu oleh Mansur Dahrawi, seorang perantau Lima Puluh Kota, putra Pogang, Taeh Bukit yang bekerja di Caltex. Ia merekomendasikan ustazd Sudirman Syair kepada ketua perantau PELKO (Persatuan Lima Puluh Kota) Darmi yang juga bekerja di Caltex untuk membantu ustazd Sudirman Syair berdakwah ke masjid-masjid di kota Duri. Bahkan ia mendapat rekomendasi dari Kepala KUA Kecamatan Mandau. Di Dumai ustazd Sudirman Syair dibantu pula oleh Ali Imran ketua PELKO Dumai. Demikian juga di Pakanbaru juga dibantu oleh pengurus PELKO.

Dalam perjalanan itu terkumpullah sejumlah dana yang dapat dijadikan sebagai biaya awal untuk pembangunan mushalla Mawahiburrahman. Tamrin (Sutan) salah seorang sahabat ustazd Sudirman Syair dengan suka rela memimpin pembangunan mushalla itu sampai selesai, dibantu oleh beberapa orang tukang dari anggota wirid pengajiannya, dibantu juga oleh relasi serta sanak-keluarganya yang ada memiliki keterampilan dalam bertukang. Mushalla itu dibangun dengan tiang pohon kelapa dengan dinding papan dan berlantai papan pula, seukuran 6 x 7 m.

Untuk tambahan biaya lainnya ustazd Sudirman Syair memungut sumbangan melalui jama’ah-jama’ah pengajian di masjid dan mushalla sekitar Payakumbuh yang ia kunjungi, ditambah pula dengan dana dari hasil usahanya sendiri beserta keluarga. Hampir setahun jalan, alhamdulillah mushalla itu dapat diselesaikan di awal April tahun 1991. Maka tinggal lah anak-anak Siak di mushalla itu, dan sebagian lagi masih ada mengisi ruangan di bekas warung yang terletak di halaman rumah ustazd Sudirman Syair dan sebagian lagi tinggal di dalam rumah mereka. Pada malam harinya terlihatlah pemandangan seru, anak-anak Siak nampak bersusun paku tidur di dalam mushalla itu.

Diantara murid-murid Tarbiyah Koto Panjang yang pertama kali tinggal di rumah ustazd Sudirman Syair adalah ustazd Nur Akmal, sekarang beliau bekerja di Kemenag Kab. Lima Puluh Kota, ia tinggal di sana ada 4 tahun lamanya. Kemudian ada lagi pak Taufik, adik dari ketua PC NU Lima Puluh Kota Syahrul Isman, ia sekarang menjadi guru SMP Situjuah Banda Dalam dan lain-lain.

Ustazd Sudirman Syair berdiskusi dengan ustazd Zubir Islami mengenai cara yang akan mereka tempuh dalam takmirul Mushalla. Dulunya ustazd Zubir Islami adalah salah seorang murid dari ustazd Sudirman Syair di Tarbiyah Koto Panjang. Mereka mendiskusikan bagaimana cara untuk menjadikan mushalla itu sebagai pusat kegiatan pendidikan agama terutama bagi generasi muda dalam memperdalam Islam. Maka disepakatilah untuk membentuk suatu lembaga pendidikan TPA / TPSA.

Pada tanggal 21 April 1991 ustazd Sudirman Syair dan ustazd Zubir Islami mengundang beberapa orang teman yang dirasa mungkin akan mendukung gagasan itu untuk menghadiri musyawarah yang bertempat di mushalla Mawahiburrahman. Dalam musyawarah itu dihasilkan keputusan pembentukan pengurus dengan program takmir mushalla, membentuk TPA/TPSA, dan mengurus majelis taklim. Senin, 5 Mei tahun 1991 dimulailah wirid pengajian pertama, sekaligus dilaksanakan pelantikan pengurus mushalla Mawahiburrahman.

Wirid pengajian terus berlangsung tanpa henti setiap minggunya yang diikuti oleh anak-anak Siak dan masyarakat umum dengan pemateri yang diisi oleh ustazd-ustazd, guru-guru dari berbagai daerah di Luak Limo Puluah.

 

 

 

---------------------------------------------------------------

Baca Selanjutnya...

Latar Berdiri Pondok


-------------------------------------------------------
Update terakhir
Jum'at, 04 Desember 2020
Pukul 08.25 Wib. PM

 

 

Posting Komentar

0 Komentar