Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

,

Riwayat Hidup H. Sudirman Syair Bag. 2

 RIWAYAT HIDUP H. SUDIRMAN SYAIR 

H. Sudirman Syair, Amd. Dt. Samulo Nan Balopiah bersama guru-guru pondok


KELAHIRAN DAN SILSILAH KETURUNAN

Kalau berbicara mengenai cikal-bakal Pondok Pesantren Ma’arif Assa’adiyah Batu Nan Limo, tentu ada beberapa hal yang perlu diketahui. Yang pertama adalah peran saya sebagai pendiri dari Pondok ini, tentu perlu pula diketahui Biografi saya. Nama lengkap saya adalah H. Sudirman Syair, Amd Dt. Samulo Nan Balopiah.

Sesuai KTP, nama saya adalah Sudirman Syair, tempat / tanggal lahir di Taeh Baruh, 19-09-1952, golongan darah saya adalah O. Alamat tempat tinggal di komplek Ponpes Ma’arif Assa’adiyah Batu Nan Limo nagari Koto Tangah Simalanggang, kecamatan Payakumbuh Kabupaten Lima Puluh Kota.

Kalau dibawa kepada penanggalan Islam, kelahiran saya adalah pada hari Jum'at, 29 Dzul Hijjah 1371 H. Penanggalan Masehinya adalah 19 September 1952, yaitu pada tahun Kabisat. [Tahun Kabisat itu merupakan tahun yang mengalami penambahan satu hari dengan tujuan untuk menyesuaikan penanggalan dengan tahun astronomi. Dalam satu tahun tidak secara persis terdiri dari 365 hari, tetapi 365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik. Penambahan 1 hari itu adalah pada bulan Februari, yaitu menjadi tanggal 29 Februari.]

Abah saya bernama Muhammad Syair, sedangkan abah beliau bernama Muhammad Saidi. Mereka berdua adalah orang berpendidikan agama, datuk saya Muhammad Saidi adalah seorang mursyid Tariqah Naqsabandi, beliau dikenal masyarakat sebagai ulama di kampung.

Adapun ibu saya bernama Sa’adah, dipanggil “Sa’a”. Saya memanggil beliau dengan sebutan “amai”. Ibu beliau (nenek saya) bernama Dina berasal dari Talago Taeh Bukit, suku Pitopang. Hanya itu yang saya ketahui mengenai silsilah keturunan ibu dan nenek saya itu.

Saya lahir ketika kondisi negara kita Indonesia ini belum stabil, sehingga orang tua memberi saya nama Sudirman Syair yang di-tafa’ulkan kepada nama Almarhum Jenderal Besar Sudirman (w. 1950). Sedangkan Syair diambil dari nama abah saya Muhammad Syair.

Kalau kita baca sejarah, pada waktu kelahiran saya itu, jenderal Sudirman baru 2 tahun wafat setelah empat tahun menderita penyakit paru-paru. Sehingga nama Sudirman santer sekali disebut-sebut sebagai pahlawan yang berjasa besar dalam upaya mengobarkan semangat juang rakyat untuk kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, ia terampil memimpin sebagai Panglima Besar untuk mematahkan upaya-upaya Belanda dalam merebut kembali Indonesia, sehingga karena kepepet pada tanggal 27 Desember 1949 barulah Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia.

Bukan hanya itu, pada tanggal 18 September 1948 bersama rakyat, Panglima Besar Jenderal Sudirman berhasil pula memimpin Tentara Nasional Indonesia (TNI) memadamkan upaya kudeta atau yang disebut juga dengan Peristiwa Madiun yang dikomandoi oleh Musso, seorang tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia). Pemberontakan ini dilakukan oleh "Front Demokrasi Rakyat" (FDR), yang terdiri atas Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Buruh Indonesia (PBI) Pemuda Rakyat dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Oleh karena itu maka dinamailah saya “Sudirman Syair” oleh abah saya.

Saya sama sekali tidak memiliki saudara kandung se ayah dan se ibu, anak beliau hanya saya sendiri saja. Kalaupun ada abah saya memiliki istri yang lain, namun mereka tidak punya keturunan.

Perkawinan pertama ibu saya Sa’adah adalah pulang ke induk bako, suami beliau yang pertama bernama Datuk Ahmad Dajo kemenakan kandung dari ayah beliau. Dari beliau itu ibu saya mendapat seorang anak yang bernama Aminu Rasyid, sewaktu kecilnya Aminu Rasyid ini sepermainan dengan Prof. Drs. Mardjani Martamin Taeh Bukit, namun ketika usia 18 tahun Aminu Rasyid meninggal dunia.

Pernikahan beliau dengan Datuk Ahmad Dajo tidak bertahan lama lalu mereka bercerai kemudian berjodoh pula ibu saya itu dengan abah saya Muhammad Syair. Pernikahan mereka itu terjadi sekitar tahun 1949 yaitu sewaktu hangat-hangatnya peristiwa Agresi Militer Belanda II. Dari pernikahan itu mereka punya anak satu-satunya yaitu saya, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.

Dari sejarah kan bisa juga kita baca bahwa Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra Barat yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Adapun nenek saya dari pihak abah saya bernama Siti Salamah, beliau punya adik perempuan bernama Andomi, suku Pagar Cancang (suku Sembilan) Taeh Baruh. Rupa-rupanya keluarga daripada abah saya ini sudah cerdas memilih jodoh untuk anak-anaknya. Keluarga mereka ini tergolong orang-orang berpendidikan sejak zaman penjajahan Belanda.

Siti Salamah dinikahkan dengan seorang ulama yang bernama Muhammad Saidi, beliau adalah seorang mursyid Tariqat Naqsabandi memiliki 4 orang anak. Anak beliau yang terkecil adalah abah saya Muhammad Syair. Etek dari abah saya yang bernama Andomi itu menikah pula dengan seorang yang bergerak dalam bidang pemerintahan, seorang Datuak Palo yang disegani, namanya adalah Datuak Tumangguang yang lebih dikenal dengan sebutan Tuak Ongguang.

Ketika itu Datuak Ongguang ini adalah wali nagari Taeh. Masa itu Taeh Baruah dan Taeh Bukit masih satu, kemudian hari pada tahun 1918 barulah dimekarkan menjadi nagari Taeh Baruah dan nagari Taeh Bukit. Sebagai wali nagari, Dt. Ongguang ini memiliki banyak istri, diantara istri beliau adalah Andomi dan Kian. Kiyan itu punya anak yang bernama Mahyudin Datuak Patiah, diantara anak Datuak Patiah ini adalah dr. Alis Marajo mantan bupati 50 Kota dan Hj. Alisni.

Kalau kita baca catatan profil dr. Alis Marajo Dt. Sori Marajo ini, beliau lahir di Payakumbuh, 23 Juni 1946. Beliau pernah menjabat sebagai Bupati Lima Puluh Kota 2 periode yakni 2000–2005 dan 2010–2015. Beliau pernah pula menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota periode 2009–2010.

Dari istrinya Andomi, Datuk Tumangguang punya anak yang bernama Sainan Sutan Bosa dan Saiduna, Saiduna ini kalau tidak salah nama anaknya adalah Mainis, sekarang ia tinggal di Padang Panjang. Sainan Sutan Bosa dan Saiduna ini dulunya adalah pegawai Jawatan Kereta Api.

Sainan Sutan Bosa punya istri dua orang, nama mereka sama yaitu “Sani”. Dari istrinya Sani I Sainan Sutan Bosa mendapat anak Amir Syamsu. Amir Syamsu itu mempunyai anak diantaranya adalah Mayor Purn. Yaspar Dt. Paduko Amat yaitu ketua yayasan Assa’adiyah pada periode yang lalu (2017-2020) dan Drs. H. Supratman. M.Pd, Supratman ini diantara anaknya adalah K. Dede Warman, SH. MH.  Jadi Yaspar itu adalah anak jatuhnya oleh saya dari segi keturunan.

Berarti Sainan Sutan Bosa ini se-ayah dengan Dt. Patiah ayahnya dr. Alis Marajo mantan bupati Lima Puluh Kota. Sainan Sutan Bosa itu adalah ayah dari Amir Syamsu, beliau adalah wali nagari Taeh Bukit yang menjabat selama 25 tahun setelah berpisah antara Taeh Baruah dan Taeh Bukit menggantikan jabatan Dt. Sumpun.

Kemudian Sainan Sutan Bosa dari istri keduanya yaitu Sani II memperoleh anak beberapa orang, yaitu Harmis, Harmus dan Sari Jamihar, SH.

Sewaktu saya sudah menikah dengan Hj. Hasnida dan baru punya seorang anak, pak etek saya Sainan Sutan Bosa itu menguliahkan saya ke IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) Padang, beliau biayai kuliah saya secara utuh 100 %.

Jadi orang tua saya di pihak bapak itu berarti sudah maju cara berfikirnya, termasuk dari Mahyudin Datuak Patiah saudara se ayahnya Sainan St. Bosa ini sampai kepada anaknya Alis marajo,  Mayor Purn. Yaspar Dt. Paduko Amat, sampai kepada K. Dede warwan, SH. MH. anak dari Drs. H. Supratman, M.Pd adik Yaspar. Supratman ia adalah direktur Amik Pakanbaru 25 tahun, dia juga dosen UNRI dari jurusan Bangunan, K. Dede warman ini, cucu dari saya jadinya. Dan lain-lainnya ada anak-anaknya yang menjadi wali nagari, dosen, pengusaha, politikus dan lainnya beraneka ragam profesi.

Secara Genetika itu berpengaruh nampaknya. Dt. Tumangguang adalah wali nagari, cucunya dr. Alis Marajo menjadi Bupati dua kali periode kabupaten Lima Puluh Kota, kemudian cucu dari pihak Sainan St. Bosa demikian juga. Adapun nenek saya Salamah kakak Andomi bersuamikan Muhammad Saidi, beliau itu ulama Tarikat Naqsabandi, ulama kampung pada masanya, anaknya Muhammad Syair abah saya juga ulama kampung. Jadi secara ganetik Muhammad Saidi, Muhammad Syair, Sudirman Syair itu kan ada juga genetik keulamaan, jadi kesimpulannya nenek dari nenek saya dari pihak ayah, itu sudah pintar mencari jodoh anak-anaknya, pertama ulama dan yang kedua wali nagari.

Di zaman Belanda, abah saya Muhammad Syair beliau berpendidikan sekolah Government 3 tahun yang bertempat di Koto Baru Simalanggang dan Sainan Sutan Bosa sebagai adik sepupu beliau juga tamat sekolah itu.

Sekolah Government yang dimaksud ini mungkin Volk School atau Sekolah Desa dengan lama pendidikan 3 tahun kemudian bila ditambah lagi dengan yang dinamakan dengan “Sekolah Sambungan” atau Vervolg School selama 2 tahun. Lulusannya dipersamakam dengan lulusan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) yaitu sekolah Belanda untuk bumiputera. Sehingga setamat ini sudah bisa menjadi guru bantu di sekolah-sekolah Government (pemerintah) Belanda, mengisi jabatan rendah dalam pemerintahan dan mengisi tenaga pada perusahaan swasta Belanda.

Setelah mendapat pendidikan di Volk School abah saya tidak menyambung lagi ke Vervolg School, beliau memilih menuntut ilmu agama kepada Syekh Muhammad Djamil Sa’adi di MTI Surau Baru Mungka, beliau belajar di sana hanya sampai kelas 5 Tarbiyah saja, hal itu mungkin karena beliau sudah berusia juga mungkin ya, sehingga tidak jadi tamat kelas 7 di sana. Abah saya dengan Syekh Muhammad Djamil Sa’adi itu hampir-hanpir sebaya umurnya.

Karena pernah mendapat didikan Belanda dan juga sekolah agama, itulah yang membuat beliau menjadi disiplin dan sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya.

---------------------------------------------------------------

Baca Selanjutnya...

Riwayat Hidup H. Sudirman Syair Bag. 3


-------------------------------------------------------
Update terakhir
Ahad, 06 Desember 2020
Pukul 08.48 Wib. PM

 
 



Posting Komentar

0 Komentar