![]() |
| Syukuran tiga momentum sekaligus pada Sabtu, 19 September 2026 |
Limapuluh Kota, Ma'arif Assa'adiyah — Keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Ma’arif Assa’adiyah Batu Nan Limo, Nagari Koto Tangah Simalanggang, Kabupaten Limapuluh Kota, menggelar syukuran tiga momentum sekaligus pada Sabtu, 19 September 2026.
Tiga momentum tersebut adalah milad ke-74 pimpinan Ponpes Ma’arif Assa’adiyah, H. Sudirman Syair, milad ke-31 berdirinya Ponpes Ma’arif Assa’adiyah, serta 49 tahun perjalanan rumah tangga H. Sudirman Syair bersama Hj. Hasnida.
Kepada awak media dalam wawancara pada Kamis, 24 September 2026, H. Sudirman Syair mengungkapkan rasa syukurnya atas tiga momentum yang berdekatan tersebut.
“Alhamdulillah, saya hampir berumur tiga perempat abad. Sangat perlu disyukuri hingga kini tetap sehat. Masih bisa mengajar, berbagi ilmu dengan para santri,” ujar H. Sudirman Syair.
H. Sudirman Syair lahir di Taeh Baruah pada 19 September 1952. Ia menyebut, berdasarkan penanggalan Islam, dirinya lahir pada Jumat, 29 Dzulhijjah 1371 H.
31 Tahun Ponpes Ma’arif Assa’adiyah
Momentum kedua yang disyukuri adalah milad ke-31 Ponpes Ma’arif Assa’adiyah.
Ponpes yang berada di Batu Nan Limo tersebut berdiri pada 15 Juli 1995. Cikal bakalnya berawal dari kegiatan Pelatihan Kader Dai Cilik dan Dai Muda (Kamci dan Kamda) yang kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan pesantren.
Dalam perjalanannya, Ponpes Ma’arif Assa’adiyah berkembang dengan memiliki pendidikan tingkat MTs dan MA. Di kompleks pesantren juga terdapat Panti Asuhan Mitra.
Selama 31 tahun perjalanan, pesantren tersebut telah melahirkan banyak alumni yang kemudian berkiprah di berbagai bidang.
H. Sudirman Syair menyebutkan, alumni Ma’arif Assa’adiyah ada yang menjadi guru, dosen, pendakwah, pengusaha, bergerak di bidang percetakan, hingga bekerja di berbagai instansi.
Di antaranya Doni Putra yang menurut H. Sudirman bergerak sebagai pengusaha Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Doni disebut memiliki tiga dapur SPPG di Kecamatan Akabiluru.
Kemudian Zamzuardi yang kini menjadi dosen di Pekanbaru. Ada pula Yoni Darmawan yang menjalankan usaha fotokopi dan percetakan di Jakarta.
Sementara Yayang Yosti Pratama disebut sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Selain itu, terdapat sejumlah alumni yang kini berkiprah sebagai ustaz dan pendakwah, di antaranya Ustaz Nasir dan Ustaz Putra dan lain-lain.
“Banyak alumni yang sudah berhasil, bergerak di berbagai bidang. Ada yang menjadi guru, di percetakan, pengusaha, dosen, pendakwah dan di instansi-instansi lainnya,” kata H. Sudirman.
Menurutnya, keberhasilan para alumni tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Ponpes Ma’arif Assa’adiyah dalam memberikan bekal pendidikan kepada para santri.
Salah satu ciri pendidikan di pesantren tersebut adalah pembelajaran kitab kuning atau Arab gundul. Selain ilmu agama, para santri juga dibekali kemampuan berpidato, menjadi khatib, menghafal serta kemampuan bermasyarakat.
![]() |
| Foto: Sirvan |
Pernikahan yang Memasuki 49 Tahun
Momentum ketiga yang dirayakan adalah 49 tahun pernikahan H. Sudirman Syair bersama Hj. Hasnida.
Keduanya telah lama saling mengenal karena sama-sama menimba ilmu di MTI Koto Panjang. Hasnida lebih dahulu menyelesaikan pendidikan, yakni tamat kelas 7 pada 1972, sedangkan Sudirman Syair tamat pada 1974.
Sebelum menikah, keduanya terlebih dahulu menghadap Buya Haji Syekh Mukhtar Engku Lakuang untuk meminta izin dan restu.
Menurut penuturan H. Sudirman Syair, Buya Syekh Mukhtar Engku Lakuang memberikan restu dan bahkan turut merencanakan hari pernikahan mereka.
Pada hari akad nikah saya, beliau juga mengutus dua orang guru untuk menjadi saksi. Salah seorang di antaranya adalah H. Rusydi Marjidan.
H. Sudirman Syair dan Hj. Hasnida kemudian melangsungkan akad nikah secara sederhana namun khidmat pada Jumat, 26 Agustus 1977.
Saat menikah, Hasnida mengajar di MTI Koto Panjang, sedangkan H. Sudirman Syair mengajar di sebuah pondok pesantren di Taeh Baruah.
Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai empat orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan, serta sepuluh orang cucu.
Beberapa cucunya, menurut H. Sudirman, juga menempuh pendidikan di pondok pesantren di Pulau Jawa, di antaranya Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan dan Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo.
“Setahun lagi, genap usia pernikahan kami setengah abad. Insyaallah pernikahan kami yang pertama dan untuk yang terakhir,” tuturnya.
Dekat dengan Santri
H. Sudirman Syair dan Hj. Hasnida juga dikenal dekat dengan para santri. Keduanya tidak hanya menjalankan peran sebagai pimpinan dan pengasuh, tetapi juga membangun kedekatan dengan para santri seperti orang tua dengan anak.
Dalam keseharian, keduanya dapat bersikap tegas dan serius, tetapi juga dapat berkelakar dan tertawa bersama para santri.
Pendekatan tersebut membuat para santri merasa betah berada di lingkungan pesantren.
Di sisi lain, perjalanan Ponpes Ma’arif Assa’adiyah juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional disebut pernah berkunjung ke pesantren tersebut.
Salah satunya Prof. Ganefri, Ph.D., mantan Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) dua periode, yang kemudian dipercaya menjadi Ketua Yayasan Ponpes Ma’arif Assa’adiyah.
Syukuran tiga momentum tersebut digelar secara sederhana dan dihadiri pengurus yayasan, kepala madrasah serta majelis guru. Kegiatan ditutup dengan makan bersama di aula pesantren.
Bagi H. Sudirman Syair, perjalanan usia, rumah tangga dan pesantren yang berlangsung beriringan tersebut bukan sekadar angka, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang yang patut disyukuri dan diteruskan melalui pendidikan serta pengabdian kepada generasi muda. (Humas).







0 Komentar