Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

,

Riwayat Hidup H. Sudirman Syair Bag. 6

 RIWAYAT HIDUP H. SUDIRMAN SYAIR

 

H. Sudirman Syair, Amd. Dt. Samulo Nan Balopiah di depan Santri-santrinya

BELAJAR DI MTI KOTO PANJANG

Mendaftar di MTI Koto Panjang

Bulan Februari tahun 1969, yaitu di akhir Catur Wulan ke-2, saya membawa surat pengantar pindah sekolah dari MTI Surau Baru Mungka yang ditanda-tangani oleh ustazd Zubir Dt. Bujang Nan Hitam. Surat itu saya berikan kepada Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang di MTI Koto Panjang. Sebelum diterima, saya diuji dulu membaca matan kitab kuning, kemudian barulah saya diterima sebagai murid di kelas 3 di MTI itu. Dan saya ketika itu mencari rumah tempat tinggal dan dapatlah tempat tinggal di surau Buya Ongku Kotik, beliau adalah kepala MTI Koto Panjang yang pertama.

Ketika itu kondisi saya sangat sulit, perlu banyak penyesuaian, saya banyak tertinggal dari segi pelajaran, ekonomi sayapun susah, tidak ada lagi abah yang membackup kehidupan kami, karena beliau sudah meninggal dunia.

Awal masuk di MTI Koto Panjang pada tahun 1969 itu kelas belajar mengalami double shift pagi dan sore selama 1 tahun karena sedang dilakukan pembangunan beberapa lokal belajar. Kelas 1 dan 2 masuk pagi sedangkan kami di kelas 3 dan 4 masuk sore sehabis Zuhur, minggu berikutnya gantian, kelas 3 dan 4 masuk pagi, sedangkan kelas 1 dan 2 masuk sore. Kelas 6 dan 7 tetap saja masuk pagi, tidak pernah belajar sore.

 

Nilai Raport Merah

Pertama kali belajar dengan Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang saya mengaji kitab Matan Sulam. Bunyi syairnya “Alhamdulillahil ladzi qad Akhraja, nataaijal fikri li arbabil hija”. Tamat oleh kami Matan Sulam itu dulu tu.

1 bulan belajar di MTI Koto Panjang, sampailah kami pada ujian Catur Wulan ke-2 yaitu pada bulan Maret 1969. Pada buku raport saya tertera nilai hasil ujian itu, sangat menyedihkan, 9 macam diantara mata pelajaran saya itu nilainya merah.

Setelah libur ujian, kami masuk lagi belajar di Catur Wulan ke-3. Saya harus bersungguh-sungguh belajar, terus berjuang berusaha memperbaiki nilai mata pelajaran saya yang rusak itu. Saya berusaha bekerja keras membuktikan bahwa saya mampu untuk itu.

Ketika pulang dari sekolah, saya sering menghafal hadis, fokus mengulang pelajaran sendiri saja di rumah tiang sembilan milik Ongku Kotik yang terletak di dalam kebun nenasnya. Sedangkan pada malam harinya saya mengulang pelajaran lagi dengan Ongku Kotik di surau. Selain itu, saya juga belajar berkhutbah dan berpidato, rajin mengikuti acara Muhaddarah di Tarbiyah.

Dengan usaha itu, alhamdulillah pada ujian kenaikan kelas, tidak ada satupun nilai mata pelajaran saya yang merah, bahkan saya mendapat juara ke-3.

 

Membeli Sepeda

Setiap mau pulang ke Taeh setiap minggunya, agak jauh Amai terasa. Saya berkeinginan akan membeli sepeda. Saya sampaikan niat itu kepada Amai.

Dari harta peninggalan almarhum Abah, Amai ada punya sawah kira-kira seluas 4 Gantang benih padi. Dari hasil sawah itu padinya ditumbuk menjadi beras, kelebihan beras dari kebutuhan makan kami jual.

Dengan sisa-sisa uang peninggalan almarhum Abah ditambah dengan hasil penjualan  beras itu Amai membelikan saya sepeda Onta betina (Sepeda Onthel Releigh). Sejak memiliki sepeda itu saya semakin sering pulang ke rumah Amai di Taeh.

Untuk mengobati kerinduan berkumpul mengaji bersama teman-teman, saya datang juga sekali-sekali ke rumah guru saya di MTI Surau Baru Mungka dulu, yaitu ibu Darwisah di Durian Bungkuak Kubu Gadang Taeh.

Di rumah beliau saya kembali bertemu dengan teman-teman sepengajian seperti Dalisman, Rosnini, Yulni Marlis, Darnas. Dt. Bagindo, Nurhayati. S, Nurhayati. P, Nurniatis, Himler Usman, dan Harmen.

 

Pandai Berkhutbah

Masih di kelas 3 MTI Koto Panjang, saya sudah bisa berkhutbah. Khutbah pertama saya yaitu di masjid Baiturrahmi Kubu Gadang Taeh. Namanya masjid Baiturrahmi bukan Baiturrahim, letaknya diantara Taeh dengan Mungka hampir ke perbatasan. Kalau dulu masjid itu terletak di dalam kampung, sedangkan sekarang masjid Baiturrahmi itu dibangun ulang di pinggir jalan besar, bentuknya bagonjong-gonjong, sedangkan masjid lama itu dialih fungsikan menjadi mushalla.

Saya masih ingat materi khutbah saya ketika itu adalah tentang masalah Timur Tengah, tentang pendudukan Israel di Palestina. Ayat yang saya hafal untuk Khutbah itu adalah “Ya ayyuhalladzina aamanu, hal adullukum ala tijaratin tunnjikum min ‘azabin alim. Tuk minunabillahi wa tujaahiduna fi sabilillahi fi amwalikum wa anfusikum, dzalikum khairullakum inkuntum ta’lamun, surat shaf ayat 10-11-12”. Jadi dalam khutbah itu saya menyampaikan supaya kita berjuang di jalan Allah dengan semangat menginfakkan harta benda, dan tenaga, fikiran demi untuk kejayaan Islam.

Waktu itu ada seorang pegawai Depen, namanya bapak M. Yunus Engku Kali Dt. Indo Marajo, orang Taeh. Ia memperhatikan khutbah saya, ia melihat ada bakat pada diri saya, ia mengajak saya untuk dikader menjadi khatib, saya sangat setuju sekali. Selain saya, juga ada beberapa orang kawan lainnya yang ikut pengkaderan itu, namun inti dari kegiatan itu adalah untuk mengkader saya saja. Sejak itu bertambah-tambahlah kemampuan saya untuk berbicara diatas mimbar.

 

Peluang praktek Khutbah dari H. M. Amin

Di kelas 4 Tarbiyah Koto Panjang tahun 1970, saya amat senang sekali berkhutbah, agak mencandu rasanya. Bahan khutbah saya semakin banyak. Kemampuan berorasi sayapun bertambah bagus karena diasah terus oleh Alm. bapak M. Yunus Engku Kali Dt. Indo Marajo.

Untuk menyalurkan hobi berkhutbah itu, saya punya cara yang unik, yaitu dengan mendekati datuk H. Muhammad Amin Taeh Bukit, beliau ini ada hubungan karib-kerabat juga dengan saya, termasuk pak etek juga oleh saya.

Setiap hari Jum’at saya cepat pulang sekolah. Saya pacu kecepatan laju sepeda saya biar cepat sampai di Taeh. Saya kejar datuk H. Muhammad Amin ke Suraunya. Dari surau itu saya berjalan mengiringinya ke Masjid, dengan harapan supaya nanti disuruhnya untuk berkhutbah. Itu harapan saya, tetapi saya tidak pernah mengatakannya kepada beliau. Namun beliau sangat memahami keinginan saya.

Hal itu sering terjadi. Bila nanti sudah tiba saatnya masuk waktu Jum’at, Dt. H. Muhammad Amin ini akan melengong kepada saya “Man...! Man..! kamu yang membaca khutbah ya” suruh beliau. Yang demikian itu sering saya lakukan. Begitulah hobi saya sejak dari kelas 4 Tarbiyah Koto Panjang.

 

Aktif di organisasi IPTI

Di kelas 4 Tarbiyah Koto Panjang pada catur wulan pertama bulan Agustus tahun 1970 ada pergantian kepengurusan Ikatan Pelajar Tarbiyah Islamiyah (IPTI) MTI Koto Panjang. Saya terpilih sebagai ketua bidang dakwah. Sejak Orde Baru Partai Islam PERTI mengapungkan IPTI (pelajar) ini menjadi Ikatan Pemuda Tarbiyah dengan kependekan yang sama juga yaitu IPTI.

Fungsi bidang dakwah IPTI Tarbiyah Koto Panjang itu diantaranya adalah menunjuk peserta Muhaddarah yang diadakan sekali 15 hari. Muhaddarah itu diisi dengan pidato dan khtubah jum’at. Kalau murid laki-laki tingkat Aliyah ia harus tampil membawakan khutbah Jum’at. Saya sebagai ketua bersama perangkat IPTI di bawah saya sekali 15 hari selalu mencari peserta yang akan mengisi acara muhaddarah tersebut.

Saya masuk dari lokal kelas 1 sampai dengan kelas 3 mencari calon peserta. Semuanya ada 15 lokal. Kelas 1 lima lokal, kelas 2 lima lokal dan kelas 3 lima lokal pula. Sedangkan kelas 4 ada empat lokal, kelas 5 tiga lokal, kelas 6 tiga lokal pula dan kelas 7 ada tiga lokal pula. Untuk tingkat Aliyah kawan-kawan yang lain masuk ke lokalnya mencari calon peserta.

Kelas 7 tidak ada ikut sama sekali, kelas 7 diistimewakan sebagai kelas yang paling tinggi. Kegiatan organisasi hanya sampai kelas 6 saja. Sedangkan murid kelas 7 disibukkan dengan belajar menghadapi ujian Diploma, mereka fokus belajar saja.

Ada banyak ujian akhir yang akan dihadapi oleh murid kelas 7, diantaranya adalah ujian retorika dakwah atau berpidato atau berkhutbah, ujian kitab gundul. Kalau ujian dengan buya Lakuang, itu syair-syair yang diujinya semisal ilmu Balaghah kitab Jauharul Maknun, itu syairnya mesti hafal. Ilmu Bayan, Ilmu Badi’nya, diuji semua syair Nadzhamnya.

Saya sangat senang sekali mengatur jadwal muhadarah itu. Ketika itu hampir seribu pelajar di Tarbiyah Koto Panjang. Saya menej kawan-kawan yang sudah pandai berkhutbah itu semuanya lalu pimpinan Tarbiyah Koto Panjang menurunkan mereka berdakwah ke kampung-kampung.

Sejak kelas 4 sampai dengan kelas 6 Tarbiyah, 3 tahun lamanya saya memegang jabatan sebagai ketua bidang dakwah di Ikatan Pelajar Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang.

Untuk di sekolah, itu organisasinya IPTI, kalau di kampung kegiatan organisasi yang saya ikuti adalah wirid pengajian. Jadi relefan jadinya aktifitas saya di kampung dan di sekolah.

Itulah yang membentuk saya hingga kemudian hari menjadi sangat hobi sekali berorganisasi.

 

Metode Belajar

Pada tahun 1970, setelah naik ke kelas 4 Tarbiyah (MTI Koto Panjang), dengan Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang saya belajar kitab Qatrun Nida dalam mata pelajaran Ilmu Nahwu.

Ketika itu saya jadi terbiasa dengan Kaji Batungkuih (syurahan pelajaran yang sudah matang oleh guru dari rumah). Untuk belajar kitab saya sangat suka mencari lawan berdiskusi, bermujadalah. Saya raun mencari Kaji Batungkuih itu. Saya tanyakan soal-soal yang saya tidak mengerti kepada kawan sekelas, kalau tidak dapat maka saya cari kelas yang lebih tinggi. Dalam bermujadalah bidang Nahwu Sharaf. Sehingga dengan demikian Ongku Lokuang sayang sekali kepada saya.

Dari guru di Tarbiyah Koto Panjang saya diajarkan tentang cara menuntut ilmu. Ada lima Mim kalau tidak salah, yaitu Muthala’ah maksudnya mentela’ah atau berupaya memahami pelajaran. Kemudian Muhafazhah artinya menghafalkan pelajaran. Kemudian Muzakarah atau berdiskusi. Setelah itu kalau bisa berMujadalah yaitu bersoal jawab atau berdebat. Kemudian Mudawwamah, maksudnya berketerusan, hal itu sama juga dengan istiqamah. Kemudian yang terakhir adalah Mahabbah, maksudnya usahakan mendapat ridha dan rasa sayang dari guru.

Kesungguhan saya menuntut ilmu ketika itu sangat tinggi, bukan hanya di sekolah, namun saya juga menambah ilmu di wirid rutin majelis taklim MTI Taeh yang diasuh oleh ustazd Zubir Dt. Bujang Nan Hitam, kemudian saya ada juga mengikuti wirid rutin majelis taklim surau Tada dan masjid Baiturrahmi Kubu Gadang Taeh.

Setiap acara wirid pengajian, saya ditugaskan untuk menabuh beduk untuk memanggil jama’ah, setelah shalat Magrib saya ulangi lagi menabuh beduk sekali lagi. Ketika itu alat pengeras suara seperti mik belum banyak seperti sekarang ini.

Menjelang jama’ah berkumpul, saya isi dengan mengaji membaca Al-Qur’an. Kemudian saya juga ditugaskan untuk menjadi protokol memimpin acara.

Minimal dalam satu bulan ada 4 kali wirid yang saya ikuti, saya ditugaskan untuk memimpin acara itu. Lama kelamaan kemampuan saya meningkat, saya belajar berceramah menyampaikan pelajaran-pelajaran yang saya dapat di sekolah. Sebelum buya berceramah, sayalah terlebih dahulu yang berceramah. Awalnya biasa-biasa saja namun akhirnya menjadi terbiasa.

Dari wirid-wirid itu saya ada juga mendapat sedekah berupa uang dari jama’ah pengajian.

 

Guncangan Ekonomi

Saya baru beberapa bulan duduk di kelas 4 Tarbiyah Koto Panjang, sudah masuk ke Catur Wulan ke-2. Umur saya ketika itu adalah 18 tahun, sudah agak dewasa juga dari ukuran usia normal bersekolah.
Sekitar setengah tahun saya bersekolah di Tarbiyah Koto Panjang, amatlah terasa oleh saya bagaimana rasanya kekurangan ekonomi sepeninggal abah. Walaupun ada jama’ah wirid yang bersedekah untuk saya, namun amat terasa susahnya mencari biaya hidup dan untuk bersekolah.

Bagaimanapun akal, saya harus berusaha memikirkan bagaimana caranya supaya saya bisa terus bersekolah. Bagaimanapun juga keinginan itu harus bisa terwujud. Prinsip seperti itu terbawa-bawa oleh saya sampai sekarang “Ba ka baa harus dapek” maksudnya “bagaimanapun juga harus dapat oleh saya, harus bisa”.

Amai saya nampak patah tangan oleh sebab kepergian abah. Walaupun saya tinggal di Koto Panjang namun saya sering pulang ke rumah ami menyilau beliau yang tinggal di tanah Bako saya, di rumah kecil mendiang abah, rumah papan berlantai palupuh pula.

Amai saya Sa’a (Sa’adah) sebenarnya berasal dari Taeh Bukit, beliau dibawa abah ikut tinggal di rumahnya di Taeh Baruah. Ketika abah masih hidup, amai tidak pernah bekerja mencarikan biaya keluarga, beliau disenangkan oleh abah, namun ketika abah sudah tiada, beliau agak payah jadinya. Hal itu mendorong saya ingin bekerja mencari biaya hidup untuk menafkahi amai dan mencari biaya untuk sekolah saya.


Beruk Pencari Uang

Ketika itu saya ada sedikit uang yang saya kumpulkan dari sedekah-sedekah jama’ah di surau, lalu saya beli seekor beruk kecil yang sudah pandai memetik kelapa, saya bikin kandangnya di rumah Amai di Taeh. Dengan beruk itulah saya bekerja mencari hidup penambah-nambah uang belanja.

Hari Ahad di Tarbiyah Koto Panjang kan tidak sekolah, itu hari liburnya, namun di hari Jum’at kami tetap belajar seperti biasa. Jadi setiap hari Ahad, saya bisa menjajakan beruk itu di sekeliling kampung menawarkan jasa memetik buah kelapa.

“Boruak……..!” seseorang memanggil saya dengan panggilan “Boruak”. Lalu saya melengong menghadapnya. “Tolong ambil kelapa saya ya!” pinta orang itu.

Jadi begitulah, saya dipanggil “Boruak”, biasa saja, ini mungkin sama jikalau orang mau membeli sate, dipanggil juga dengan “sate”, atau orang membeli nira dipanggil juga dengan “Niro”.

Ada seorang kaya di Taeh, keluarga abah saya juga, ia memiliki banyak pohon kelapa, Iyek Pani namanya, suaminya bernama Lengah, hampir setiap minggu saya memetik buah kelapanya. Pohon kelapanya amat banyak mungkin sampai ribuan batang.

Dalam sehari itu mungkin bisa sampai 500 buah kelapa masak bisa dipetiknya. Kelapa itu saya kupas dengan Sulo kemudian dianggikkan (dijalin) per 10 butir.

Beruk saya itu memang pandai memetik buah kelapa yang sudah masak, ataupun kepirauan. Tidak pernah ia salah mengambil kelapa muda. Sesampai di pokok kelapa, saya halau beruk itu hingga memanjat, kemudian saya arahkan beruk itu untuk memetik buah kelapa dengan menarik-narik tali panjang yang diikatkan dilehernya.

500 buah kelapa itu kalau dianggik akan menjadi 50 anggik, upahnya adalah 5 anggik atau 50 butir kelapa, ditambah dengan beberapa butir kelapa karena kasihan. Jadi minimal saya bisa mendapat upah sebanyak 60 butir kelapa.

Kemudian hari, bukan hanya di hari Ahad saja, namun di hari-hari lainpun saya sempatkan juga mengambil upah memetik kelapa sepulang dari sekolah. Alhamdulillah rezki saya dimurahkan oleh Allah SWT. Itulah kerja saya untuk mencari nafkah, berulang dari Koto Panjang ke Taeh. Malam harinya kembali ke surau, paginya ke sekolah dan sorenya kadang-kadang pulang ke Taeh mengambil upah memetik kelapa.

Akhirnya saya tinggalkan Surau Ongku Kotik di Koto Panjang. Saya hanya 1.5 tahun saja tinggal di situ, kemudian berulang setiap harinya pergi ke sekolah dari rumah Amai di Taeh.

 

Zakat 400 Gantang Padi

Ketika sudah duduk di kelas 5 Tarbiyah Koto Panjang tahun 1971, waktu itu saya berumur 19 tahun. Di MTI (Tarbiyah) Koto Panjang saya belajar dengan Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang Kitab Jauharul Maknun fan Balaghah sampai kelas 7.

Sehari-hari saya terus mengurus acara wirid pengajian, kadang-kadang saya mengisi khutbah jum’at pula. Kaum muslimin jama’ah wirid sangat sayang kepada saya.

Waktu itu panen padi kan dengan cara dituai, tidak disabit seperti sekarang. Setiap panen itu saya mendapat zakat dari jama’ah minimal 30 goni padi tuai. Setiap goni minimal isinya 10 gantang, ada pula yang sampai 50 gantang. 30 goni berarti itu sama dengan 300 sampai 400 gantang jumlahnya. Panen padi dua kali dalam setahun, itu artinya untuk makan dan biaya hidup saya berdua dengan amai sudah cukup diberi Allah Swt.

Ini mungkin Yaj’allahu Makhraja sepertinya, “man yattaqillaha yaj’allahu Makhraja wa yarzuquhu min haitsu la yahtasib, sehingga saya sudah agak jarang jadinya menjajakan Beruk karena sudah mendapat support dari jama’ah wirid.

 

Buya H. Muhammad Djamil Sa’adi Wafat

Pada tahun 1971 itu, guru saya H. Muhammad Djamil Sa’adi Pimpinan MTI Surau Baru Mungka wafat. Saya sampaikan berita duka itu kepada Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang, beliau mengutus santri kelas 6 sebanyak tiga lokal untuk berta’ziyah bersama guru-guru lainnya ke Surau Baru Mungka itu.

Saya merasa berduka dengan kepergian beliau. Banyak pelajaran yang saya terima dari beliau, saya pernah pula tinggal bersama beliau dan merasakan gemblengannya dengan segala ilmu dan suri tauladannya. Beliau bukan hanya guru saya, tetapi juga guru dari mendiang abah saya Muhammad Syair.

Bersama kawan-kawan yang lainnya saya berangkat ke Mungka berziarah ke maqam H. Muhammad Djamil Sa’adi. Di sana saya bertemu lagi dengan kawan-kawan saya sewaktu belajar di MTI Surau Baru Mungka dulu.

 

Hobi Mengajar dan berorganisasi

Pada tahun 1971 itu, ketika saya duduk di kelas 5 MTI Koto Panjang, masih berumur 19 tahun, saya sangat hobi sekali mengajar. Kalau jam pelajaran kosong maka saya cari-cari kelas 1 dan 2 yang lokalnya kosong, gurunya sedang tidak ada, lalu saya masuk mengajar di lokalnya. Mata pelajaran yang saya suka adalah fak Arab, kitab gundul. Saya gemar sekali melakukan hal demikian itu untuk membantu Tarbiyah. Saya menjadi terbiasa mengajar jadinya. Buya Mukhtar Angku Lokuang sangat sayang sekali kepada saya. Sering kali saya beliau minta untuk menggantikan guru mengajar di lokal.

Selain hobi mengajar, saya juga hobi berorganisasi. Tahun itu saya terpilih lagi menjadi ketua bidang dakwah Ikatan Pelajar Tarbiyah Islamiyah (IPTI) Koto Panjang. Ini adalah prestasi bagi saya dan sekaligus prestise, dapat mengajar menjadi guru, itu membuktikan bahwa saya sudah mampu dan sudah memiliki ilmu.

Dengan demikian, saya termotivasi untuk terus belajar berorganisasi dengan banyak membaca buku, banyak bertanya kepada yang tua-tua. Saya suka bergaul banyak dengan tokoh-tokoh masyarakat, ulama, pedagang, dan cendikiawan. Sehingga banyaklah pelajaran dan masukan untuk saya.

Diantaranya adalah dari almarhum H. Hasan Basri Datuk Sati Gindo Malano. Beliau telah wafat di awal tahun 2020 dalam usia 97 tahun. Beliau ketika itu menjabat sebagai menejer Koperasi Unit Desa (KUD) Sakato Taeh dan sekaligus juga ketua pengurus MTI Dalam Koto Taeh.

 

Menjadi guru di MTI Dalam Koto Taeh

Dengan hobi mengajar ditambah lagi hubungan saya dengan Alm. H. Hasan Basri Datuk Sati Bagindo Malano, maka saya diangkat menjadi guru di MTI Dalam Koto Taeh. Di sana saya mendapat amanah mengajar setiap hari Senin dan Kamis.

Guru saya di MTI Koto Panjang buya Nawawi Guguak Nunang mengizinkan saya mengajar di sana. Beliau juga meminta kepada Ongku Lokuang supaya juga mengizinkan saya mengajar. Ongku Lokuang membolehkan saya mengajar di sana dengan syarat saya mesti mengulang lagi ketertinggalan pelajaran dengan buya Nawawi Guguak Nunang. Ketika itu setiap hari mengajar, saya datang ke surau buya Nawawi di Guguak Nunang mengulang pelajaran dengan beliau. Jaraknya adalah 5 Km dari Koto Panjang.

Jadi dua hari dalam seminggu saya tidak datang belajar ke MTI Koto Panjang, hari itu saya menjadi guru betulan di MTI Dalam Koto Taeh. Hari Senin dan Kamis itu kami di MTI Koto Panjang hanya belajar mata pelajaran kitab saja, tidak ada mata pelajaran (fak) umum, jadi saya bisa mengulang pelajaran itu sepulang mengajar dengan buya-buya yang bersangkutan seperti Buya Nawawi Guguak Nunang, Buya Ahmad Sati, Buya Marjidan dan lain-lain di rumah beliau.

Untuk memudahkan mengulang kaji, maka pada malam harinya saya menginap di surau Buya Nawawi di Guguak Nunang. Paginya saya berangkat ke sekolah dari surau beliau. Kemudian sore harinya pulang lagi ke rumah amai di Taeh.

Dengan mengajar itu, bertambah-tambah pulalah ilmu saya jadinya, pengetahuan agama terasa semakin memadai, kecakapan berbicara di hadapan publik juga semakin lihai. Terasa pulalah saat itu, sudah agak membayang tempat tumbuh jenggot di dagu saya, yang tiap sebentar saya barut-barut juga dari atas ke bawah. “Ka Jadi Buya juo awak”.

MTI Dalam Koto Taeh itu didirikan oleh 3 orang tokoh, yaitu 1). Almarhum H. Hasan Basri Datuk Sati Bagindo Malano. 2). Guru saya almarhum Ustazd H. Zubir Dt. Bujang Nan Hitam dan 3). Amir Syamsu mantan wali nagari Taeh Bukit. Beliau adalah anak dari pak etek saya. Ayah dari Yaspar Dt. Paduko Amat mantan ketua Yayasan Assa’adiyah periode 2017-2020.

Pada tahun 1969 masyarakat Taeh bergotong-royong mencari dana untuk membangun sekolah agama itu dengan cara kongsi-kongsian menuai padi. Mereka sama-sama berkorban semuanya. Ada diantara pendiri itu yang menjual kerbau, ada yang menggadaikan sawah dan sebagainya sebagai modal awal untuk pembangunan sekolah.

Diantara guru MTI Dalam Koto Taeh itu yang kharismatik adalah buya Imam Muhammad dan buya Sarkani Datuak Mangkuto, beliau juga sebagai guru di MTI Koto Panjang. Pimpinan sekolahnya adalah ustazd H. Zubir Dt. Bujang nan Hitam, sedangkan kepala Tsanawiyahnya adalah ibu Hj. Ratnawilis, orang tua dari Dasril, teman yang sama-sama pindah dengan saya dari MTI Surau Baru Mungka ke MTI Koto Panjang. Kemudian yang kepala Aliyahnya adalah Buya Imam Muhammad, orang Taeh menyebut beliau dengan panggilan “Imam Mamad”.

Kemudian hari walaupun saya belum tamat dari MTI Koto Panjang, saya diangkat menjadi semacam wakil pimpinan tidak resmi di MTI Taeh. Sayalah yang mengurus hampir semua urusan administrasi. Alhamdulillah murid pertama MTI Dalam Koto Taeh itu ada berjumlah sebanyak 10 orang. Kemudian hari semuanya menjadi pegawai negeri kecuali hanya 1 orang saja yang tidak.

Sampai beberapa kali kelulusan, boleh dikatakan 90 % alumni MTI Taeh menjalani profesi sebagai pegawai negeri, pada masa sekarang (tahun 2020) ini sudah hampir pensiun mereka semuanya.

Pengalaman membina dari awal MTI Dalam Koto Taeh itu memotivasi saya di belakang hari untuk mendirikan lembaga pendidikan serupa itu pula.

 

Kaji awak dilanyau orang

Disa’at itu ego saya sedang berkembang, tuntutan eksistensi diri sedang bergejolak, ada sesuatu yang terjadi di kampung Taeh yang membuat darah saya memanas, masalahnya “Kaji awak urang Tarbiyah dilanyau (diinjak-injak) orang”.

Seorang anggota Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) namanya Buyuang Agus Dt. Majo Bosa yang kami singkat dengan panggilan “pak BA” ia berkhutbah di masjid besar Nurul Falah Taeh Baruah, kebetulan beliau itu ketua pengurus masjid ketika itu. Dalam Khutbahnya itu ia mencemooh buya-buya Tarbiyah PERTI (Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah) tentang masalah Zakat Fitrah.

Saya kan orang PERTI, Tarbiyah Koto Panjang itu kan sekolah PERTI, apa lagi saya kan pengurus Gerakan Pelajar Islam Indonesia (GERPII) dari MTI Koto Panjang, kesayangan pula oleh buya H. Mukhtar Ongku Lokuang. GERPII adalah sebuah organisasi pelajar Islam underbow PERTI juga.

Waktu itu adalah setelah bulan puasa kalau tidak salah, bulan Syawal 1391 H sekitar bulan November 1971 M. Dalam khutbahnya pak BA ini mencemoohkan buya-buya PERTI yang banyak memakan sesuatu yang bukan haqnya, seperti upaya dalam mengumpulkan zakat Fitrah. Terlebih-lebih lagi buya-buya Surau Suluk, Mursyid atau Khalifah Tariqah di kampung yang secara tidak sah menurutnya telah mengumpulkan zakat Fitrah, itu tidak haqnya, tidak ditempatnya” itulah kata pak BA ini dalam khutbahnya.

Waktu itu kan baru beberapa bulan selesai perhelatan demokrasi pemilu pertama di masa Orde Baru untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat I provinsi maupun tingkat II untuk kabupaten / kota, yang diselenggarakan secara serentak se-Indonesia pada hari Senin tanggal 5 Juli 1971 yang dimenangkan oleh Partai Golongan Karya (Golkar) dengan perolehan kursi sebanyak 236. Kemudian mengikut Partai Nahdlatul Ulama sebanyak 58 kursi. Setelah itu Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) 24 kursi. Partai Nasional Indonesia (PNI) 20 kursi, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 10 kursi, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 7 kursi, Partai Katolik 3 kursi. Dan yang terakhir Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) dengan perolehan hanya 2 kursi saja. [Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, "Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Periode 1971 - 1977 ", http://repositori.dpr.go.id/82/1/DPR%20RI%20PERIODE%201971-1977.pdf(diakses pada: 13 Oktober 2020, pukul 13.31 Wib.)]

Tentu saja dalam masa-masa itu masih ada terjadi saling lempar opini, saling serang argumentasi di tengah-tengah masyarakat antara satu pendukung dengan pendukung lainnya dari partai politik dan golongan kontestan pemilu.

Sakit hati saya mendengar khutbah yang seperti itu, padahal beliau ini berteman dengan buya Lokuang, namun buya-buya kita guru-guru MTI, guru-guru Tariqat dicemoohkannya juga.

Secara garis keluarga, beliau ini adalah di garis anak dari saya. Karena bapaknya Atuak Jamin Ongku Mondua adalah segaris dunsanak dengan saya. Berarti saya ini Bako jadinya oleh pak BA ini.

Lalu saya informasikan hal ini kepada Almarhum Buya Syarkani Dt. Mangkuto, Almarhum Buya Imam Muhammad, Almarhum Buya H. Zubir Dt. Bujang Nan Hitam, dan saya minta pendapat beliau. Lalu kata beliau “jadi begini modelnya bapak BA ini ya” katanya.

Bersama seorang tokoh masyarakat, Alm. M. Yunus Muin, suami dari ibu Darwisah Durian Bungkuak, guru saya di MTI Mungka dulu. Dengan beliau saya buat beberapa lembar panflet yang berisi tulisan:

“Ooo bapak BA, iyo alah santiang bana bapak kini, salamo bapak berbini ibuk Naruma, guru Agama, sudah pintar bapak berkhutbah. Baserak-serak kentut kami jadinya karena mendengar khutbah bapak.”

“Alaa pak BA, selama bapak menjadi pengurus masjid ini, iyo sama perilaku bapak dengan Borang-borang ya, habislah ikan masjid oleh bapak.”

 Pamflet-pamflet itu kami tempel jam 1 malam di depan masjid, di depan Balai, di pohon Surian di tempat keramaian. Sesudah subuh ramailah orang membacanya, heboh orang membimcangkannya di kampung, kami hanya diam-diam saja. Panflet itu menjadi perbincangan orang selama beberapa hari.

 

Mendapat Pembelaan dari H. M. Amin

Datuak H. M. Amin ini beliau bermaqam Kasab nampaknya, banyak keajaiban yang saya temui tentang beliau. Saya pernah digigit anjing, dengan Datuk H. M. Amin inilah saya berobat. Banyak juga orang yang datang mintak obat kepada beliau.

Sebagaimana yang saya ceritakan sebelumnya; datuk H. Muhammad Amin Taeh Bukit ini ada tali kerabat juga dengan saya, beliau adalah pak Etek jatuh oleh saya, beliau juga sumando dari dr. Alis Marajo mantan bupati 50 Kota. Sebabnya adalah karena salah seorang istri dari Datuk H. M. Amin ini adalah anak tertua dari Mahyudin Datuak Patiah, atau kakak lain ibu dari dr. Alis Marajo. Namanya adalah Hj. Uni suku Pitopang jorong Talago Taeh Bukit. Jadi Hj. Uni ini etek (oncu) jadinya oleh saya.

Suatu kali saya bersama beberapa orang kawan ingin menemui Datuak H. M. Amin ini ke suraunya. Kami hanya ingin mengobrol-ngobrol saja dengan beliau, sekedar mendengarkan nasehat kebaikan, pandangan-pandangan hidup dari beliau. Kami memang sering pergi ke surau itu mengobrol-ngobrol dengan beliau.

Ketika itu, kami berangkat ke Taeh Bukit bersama beberapa orang kawan, sekitar 5 orang. Diataranya ada seorang murid Suluk beliau, namanya Muslim Dt. Rajo Pangulu, namun nama tenarnya adalah “Ulinuhu”.

Kami bercerita-cerita di jalan, melawak, berkelakar sehingga penat dan letih tida terasa. Ketika melewati Titian Tanjuang Melayu yang sekarang menjadi jembatan gantung itu, Ulinuhu berkata:

“Oo Man! Datuak Haji ini, kan bapak Etek kamu ini. Beliau ini gaek agogo ya Man?”

“Mengapa begitu?” jawab saya.

“Iya, Beliau ini kan sudah joriah benar, sudah uzur, nafasnya sudah sesak pula karena sudah tua, aa istrinya muda pula.”

“aa iya ya..”

“Terus yang menjadi fikiran bagi saya; bagaimana bisa Datuk Haji ini akan memanjat batang pinang? Nafasnya saja sudah sesak” kelakar Ulinuhu yang membuat kami tertawa terbahak-bahak dari Batang Sinamar terus melintasi Sawah Loweh, setelah itu mendaki pula ke Padang dengan jarak lebih kurang sekitar 5 Km.

Ulinuhu memparodikan gaya datuak H. M. Amin dengan nafas sesak di jalan mendaki. Kami ketawa-ketawa jadinya.

Ketika kami sampai di suraunya di Taeh Bukit, Datuk H. M. Amin ini kami temui sedang duduk di bangku-bangku di belakang mihrab surau mengatur-atur nafasnya yang sedang sesak.

“Eee datang kalian” katanya.

“Iya tuk, kami ada beberapa orang” jawab kami.

“Nafas saya sedang sasak, dari pagi saya tidak bisa bernafas sedikit pun tidak.” kata datuk H. M. Amin berkelakar.

“Itu bagaimana lagi tu tuk?” kata saya.

“Iya, nanti kalau sudah agak reda sedikit, akan saya cari obatnya. Orang banyak pula minta obat ke sini tadi, kalau orang ramai nafas sayapun menjadi sesak seperti ini” jelas datuk H. M. Amin.

Masih di dalam kondisi sesak nafas itu, pelan-pelan datuk haji ini bercerita pula kepada kami tentang kisah seorang tua berbini muda. Beliau bercerita mendramatisasikannya dengan cara sosiodrama. Hampir sama pula dengan Ulinuhu yang tadi mencoba memparodikan datuak haji ini.

Apa yang diparodikan Ulinuhu tadi beliau ulang pula dalam versi sosiodrama. Terdiam kami semuanya, rasanya godam besar menghantam kepala kami. Seakan-akan beliau tahu apa yang kami lakukan tadi.

Sampai beliau menceritakan pula tentang keajaiban buya-buya zaman dahulu. Jadi orang-orang muda sekarang ini ilmu-ilmu keistimewaan orang-orang tua dulu itu dibatalkannya pula, dicemoohkannya pula. Tidak tahu lagi apa yang harus kami sebut, agak pucat muka kami jadinya. Jantung berdetak agak kencang, tidak berani lagi mengeluarkan suara, hanya batuk-batuk kecil saja yang terdengar sesekali diantara kami.

Tetapi kemudian kami serasa mendapat angin segar lagi agak diangkatnya pula rasanya martabat kami oleh datuk H. M. Amin ini. “Tetapi kalau diagak-agak ya, kadang-kadang yang tua-tua ini susah pula menghadapinya, contoh saja Buyuang Agus (pak BA) di Taeh Baruah, dalam khutbah Jum’at dipantak-pantaknya pula ulama kita. Dikatakannya ulama-ulama ini lapar dengan zakat fitrah. Dia tidak tahu dengan kaji, dia orang umum tetapi pandai pula berkhutbah dilodoinyo kito, dicampak-campakkannyo Gadubangnyo kepada kita. Itu wajar saja yang muda-muda membalasnya dengan demikian itu” katanya.

Tentunya tentang peristiwa khutbah heboh Buyuang Agus Dt. Majo Bosa itu beliau sudah mengetahuinya, karena itu sudah menjadi perbincangan umum di dalam kampung.

Agak senang pula hati kami rasanya sedikit dengan pembelaan beliau tadi terhadap tindakan yang saya lakukan itu dengan menempel-nempel panflet jam 1 malam. Namun kawan-kawan ini tidak ada yang tahu kalau yang melakukannya adalah saya. Jadi itulah yang membuat saya agak heran, sepertinya datuak H. M. Amin ini tahu bahwa sayalah yang melakukannya. Jadi memang banyak keanehan beliau ini.

 

Tenggelam ketika berburu Musang

Ketika kelas 5 Tarbiyah Koto Panjang tahun 1971, saya punya dua ekor anjing, yang satu betina, namanya “Buruak”, anjing itu rancak (bagus) sebenarnya tetapi diberi saja nama Buruak. Anjing saya yang satu lagi jantan, namanya “Tungga”. Si-Tungga ini besar badannya. Memang Tungga (tunggal) lahirnya, tidak ada kembaran. Biasanya anjing itu kalau lahir kan ada 3, 4 ekor anaknya sekali lahir, kalau ini tidak, hanya 1 ekor saja, tunggal.

Anjing Tungga itu saya dapat dari anak pak Odang saya, Turumun namanya. Jadi Anjing Tungga ini pintar berburu Musang. Rata-rata setiap bulan terang, malam ke-14, kami selalu berburu malam. Musang itu keluarnya kan pada malam hari.

Kami cari musang itu di pohon-pohon Enau (Aren) yang sedang berbuah masak (Biluluak masak). Maka kami panjat pohon itu, lalu digoyang-goyang dahannya supaya musang itu risih sehingga ia melompat, sedangkan di bawah sudah ditunggu dengan anjing-anjing pemburu.

Tidak hanya malam, kadang kami berburu juga pada siang hari. Kan banyak hutan-hutan kecil itu di Taeh, banyak pohon-pohonnya. Saya dengan teman saya Yulismi Ongku Boncah sering berburu Musang, ada pula kawan yang lain namanya Am Malin, sekarang ia tinggal di Malaysia.

Pada suatu malam, kami berburu bersama orang tua-tua. Diantara yang ikut ketika itu ada seorang tokoh masyarakat namanya Sahi tuak Ulu, beliau itu bapak dari Ulin Uhu. Kami berburu di Tobiang Tuak Bento yang terletak di pangka jembatan arah ke Taeh Bukit. Waktu itu belum ada Jembatan, baru ada titian kecil dari bambu, namanya Titian Tigo.

Entah mengapa bernama Titian Tigo, padahal bambu yang membentang di situ hanya ada dua batang saja, namun namanya tetap saja disebut orang sebagai “Titian Tigo”. Kemungkinan sebelumnya ada tiga batang bambu membentang di situ, mungkin yang satunya lagi sudah rusak, jadi tinggal dua saja membentang di situ.

Jadi larilah Musang tadi melalui Titian Tigo itu terus ke seberang. Berpacu dia sampai ke Sawah Loweh. Setelah selesai berburu, sampai jam 3 Subuh dini hari, kita kembali pulang ke Taeh Baruah menyeberang sungai. Kita tidak melalui Titian Tigo lagi, karena jauh, 1.5 Km ke arah mudik. Kita semuanya berenang menyeberang melalui air, termasuk yang tua-tua juga.

Lalu saya buka baju, tinggal celana pendek saja. Anjing saya sudah menyeberang. Saya berjalan di dalam air sambil memegang pakaian di tangan menghindari basah. Rupanya ada bagian sungai itu yang agak dalam, kaki saya terperosot jauh ke dalamnya, kemudian terbenamlah saya di sana itu, hampir saja pingsan, pakaian saya basah juga jadinya semuanya. Akhirnya saya dibantu orang, dipegangi tangan saya lalu ditarik keluar.

Hobi saya berburu musang ini sudah sejak kecil, sejak sekolah SR, saya sangat parotian sekali (suka) mengikuti orang yang tua-tua. Itulah kira-kira, sangat berkesan sekali bagi saya.

 

Digigit Tungga, berobat dengan H. M. Amin

Ada lagi peristiwa yang amat berkesan bagi saya sewaktu masih berumur remaja. Tangan saya digigit oleh anjing saya yang bernama Tungga. Sampai sekarang bekasnya masih ada berupa dua buah lubang kecil lurus sejajar bekas gigitan taring anjing di tangan kiri saya, hampir ke siku.

Tengah hari ketika itu, saya sedang makan di dalam rumah, Tungga tidur di teras, entah apa yang dikejarnya ia berlari ke bawah. Tungga memekik, kakinya terjepit tangga lapuk yang yang terbuat dari palupuah bambu.

Saya tolong Tungga ini, saya lepaskan kakinya dari palupuah itu. Setelah kakinya lepas, digigitnya pula tangan saya. Ondeh mandeh bacaruik-caruik rasanya. Dua taringnya hampir merobek sampai ke tulang saya. Seperti kata pepatah “ibarat melepaskan anjing terjepit” kata orang kan, itu memang iya, saya sudah mengalaminya. Setelah kita melepaskannya dari kesusahan, lalu digigitnya pula kita, gitu kan.

Dengan langkah tegap saya pacu kecepatan jalan saya. Lari tidak dan berjalanpun bukan, kata orang seperti lari anjing atau lari maraton. Saya bergegas menuju Taeh Bukit ke surau pak etek saya H. Muhammad Amin Taeh Bukit. Ketika melewati Pakan Jum’at Taeh, mungkin orang heran-heran melihat saya berjalan bergegas-gegas sambil memegangi tangan kiri.

1 jam berjalan kaki saya tidak berasa lelah sediktipun, maka sampailah saya di surau beliau di Taeh Bukit. Lalu saya minta beliau untuk mengobatinya. Alhamdulillah di kemudian hari ada beroleh kesembuhan. Memang banyak keistimewaannya datuk H. M. Amin ini, beliau pandai mengobati orang.

 

Menguji kaji H. M. Amin

Pada tahun 1972, memasuki usia 20 tahun, saya duduk di kelas 6 Tarbiyah Koto Panjang. Guru saya Syekh H. Muchtar Angku Lakuang sangat sayang sekali kepada saya, karena saya rajin belajar dan saya juga mengajar di MTI Dalam Koto Taeh Baruah, dan saya juga aktif sebagai ketua bidang dakwah IPTI Koto Panjang.

Di Tarbiyah Koto Panjang, dengan Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang saya belajar kitab Jauharul Maknun dalam fan Balaghah dan juga belajar ilmu Istidlal yaitu dalil-dalil dalam amaliyah. Istidlal ini sama dengan mata pelajaran Aswaja kalau di sekolah-sekolah yang bernaung dibawah Nahdatul Ulama.

Bila siang harinya saya mengajar di MTI Taeh, lalu pada malam harinya saya mengulang lagi kaji (pelajaran) dengan buya Nawawi Guguak Nunang. Suatu kali saya mengaji kitab I’anatutthalibin tentang bab shalat berjama’ah dengan seluruh rinciannya dengan buya Nawawi itu.

Amai (ibu) saya pernah mengatakan bahwa ilmu agama datuk H. M. Amin Taeh Bukik itu tidak dalam, beliau tidak begitu dalam ilmu syari’atnya. “Pak etek kamu itu Man, H. M. Amin itu dulu sewaktu mengaji bersama kami di surau waktu kecil dulu ia nakal sekali, tidak ada kaji yang dapat oleh dia” kata amai saya.

Kata amai “ketika kami siap mengaji dulu dengan ayahnya di surau itu, H. Amin itu masuk ke bawah surau, diambilnya anjing lalu dilepaskannya untuk menakut-nakuti kami. Kemudian ia dimarahi oleh ayahnya. Ayah beliau juga Buya, beliau sudah turun-temurun menjadi buya.”

Teringat hal itu, saya ingin sekali menguji pengetahun pak etek saya H. M. Amin Taeh Bukit ini. Bagaimana pula ia dipanggil orang sebagai Buya sedangkan kajinya saja tidak lalu (tidak ada ilmu). Saya penasaran jadinya ingin menguji kajinya.

Suatu kali saya datangi datuk H. M. Amin ini ke suraunya, saya dan kawan-kawan yang lain kan sudah biasa main ke surau beliau untuk mengobrol-ngobrol. Bertanya ini dan itu mendengarkan nasehat dan pandangan dari beliau.

Lalu saya tanyakan kepada beliau beberapa persoalan tentang bab shalat berjama’ah. Alangkah tercengangnya saya, uraian yang beliau sampaikan begitu dalam dan lengkap dengan dalil al-Qur’an dan Hadistnya. Lebih jelimet beliau menerangkannya daripada buya Nawawi Guguak Nunang.

Saya tercengang jadinya. Bagaimana bisa, sedangkan kata Amai saya kaji beliau tidak lalu, ilmu beliau tidak dalam katanya. “Aa iyo sabana Buya baliau mah” akui saya dalam hati.

Pada kesempatan lain ada pula saya tanya pertanyaan yang sama kepada beliau namun beliau tidak bisa lagi menjawabnya. “Oh indak ado lagi, tidak bisa lagi diulang” katanya. Berarti ilmunya itu melintas saja seketika di kepala beliau, frequensi otak beliau ketika itu sedang kasyaf (terbuka). Berarti beliau ada ilmu laduni barangkali itu kan.

 

Bunga indah tumbuh di taman hati

Menjejak usia 20 tahun itu, masih di tahun 1972, ketika saya duduk di kelas 6 Tarbiyah Koto Panjang, di tengah kesibukan belajar di sekolah, kemudian mengajar pula di MTI Taeh, aktif di organisasi dan mengurus wirid pengajian di kampung halaman Taeh. Hal itu terkadang membuat saya lelah, cukup menguras energi, memang super sibuk, tidak kalah dengan aktifis mahasiswa di zaman ini. Saya tidak pernah santai sejak dulu, kesibukan itu menjadi kebiasaan bagi saya sampai di kemudian hari.

Sehingga terkadang saya tersandung dengan masalah-masalah yang membuat kepala pusing, urat leher menjadi tegang. Rambut di kepala terasa kering-kerontang tumbuh memirang.

Namun panas tidak sampai menahun, ada saja hujan yang menyirami, padang tidak selalu tandus ada saja bunga tumbuh menghiasi. Hati terasa teduh dikala membaca ayat-ayat Al-quran, perasaan terasa syahdu dikala membaca surat-surat yang datang dari Rosnini. Rosnini adalah teman sama mengulang pelajaran dengan saya di rumah ibu Darwisah Durian Bungkuak.

Sampai kelas 6 itu, di waktu-waktu tertentu saya sering juga ke rumah ibu Darwisah mengulang kaji dan bertemu dengan kawan-kawan sepengajian terkhusus dengan Rosnini. Dulu memang terasa biasa namun kemudian ada terasa berbeda ada perasaan aneh yang bersemai di dalam dada sehingga berpilin-pilinlah telapak tangan mengusap minyak Tanco membasahi rambut di kepala.

Saya sering mendapat surat-surat cinta dari Rosnini, namun saya tidak pernah menulis surat untuknya, sebabnya karena memang saya tidak pandai menulis surat dengan bahasa yang indah. Selain itu, saya juga sering menerima surat dari Nur Hasmi adik dari teman saya Darlisman. Entah siapa yang akan saya pilih. Nur Hasmi selalu bertemu dengan saya setiap hari di sekolah.

Di tahun itu Hasnida (istri saya) telah menamatkan pendidikan di kelas 7 MTI Koto Panjang dan langsung diminta oleh Buya Lokuang untuk mengajar di almamater. Hasnida dua tahun duluan dari saya menamatkan pendidikan di MTI Koto Panjang. Ia duluan masuk MTI dari saya. Saya masuk SD pada umur 9 tahun karena terdampak atas kegaduhan perang saudara PRRI. Sedangkan Hasnida ia masuk SD pada usia 6 tahun.

Ketika awal mengajar di MTI Koto Panajang ia langsung diangkat menjadi wali kelas 1. Barangkali Nur Hasmi dan Yulni Marlis adalah salah satu muridnya ketika itu.

 

Mendampingi Buya Lokuang Mengisi Pengajian

Di kelas 6 Tarbiyah Koto Panjang itu saya merasa mendapat keistimewaan dari kawan-kawan lainnya, karena saya sering dapat kesempatan mendampingi Syekh H. Mukhtar Angku Lakuang bila beliau mengisi wirid pengajian di kampung-kampung. Misalnya beliau mengisi wirid pengajian di Taeh atau di Mungka, jika saya sedang tidak belajar atau pakansi, lalu beliau mengajak saya atau kawan lainnya untuk mendampingi beliau.

Kami berangkat ke lokasi pengajian itu dengan sepeda. Ongku Lakuang sepedanya sangat enak, mereknya Phoenix. Kereta Phoenix ini piring-piring depannya kan kecil dan piring-piring belakangnya (ferewallnya) besar, sehingga enak dikayuh. Bakaciwuah kaki beliau mengayuhnya. Kami mengikuti dari belalakang mengendarai sepeda Onthel Releigh membawakan tasnya.

Kalau buya Lokuang ada jadwal pengajian di suatu tempat, maka beberapa hari sebelum acara tersebut masyarakat membuat pengumuman melalui pengeras suara di masjid dan mushalla sekitar kenagarian itu memberitahun tentang acara pengajian itu. Biasaya jumlah jama’ah yang hadir ribuan itu banyaknya, suasana akan menjadi seperti pasar karena ramainya ummat.

Dalam perjalanan mengiringi buya Lokuang itu, di simpang-simpang jalan masyarakat menyapa beliau. Ada pula yang berkirim sedakah dan minta do’a.  “Buya.. buya.. tunggu sebentar! Pergi mengaji kemana buya… ini ada sedikit duit dari kami sebagai sedekah untuk buya atau untuk sekolah Tarbiyah” kata mereka.

Beliau berucap terimakasih kemudian memasukkan duit itu ke dalam kantong jaket atau jas beliau. Di banyak tempat persimpangan jalan beliau ditunggu orang seperti itu. Jadi bila besok harinya kita telah sampai di Koto Panjang, maka dibukalah isi saku jaket atau jas beliau itu. Kita keluarkan duit tadi, lalu kami hitung.

Itulah diantara keistimewaan beliau, setiap pergi wirid sering mendapat sumbangan dari ummat untuk pembiayaan sekolah Tarbiyah Koto Panjang.

 

Usil Terhadap Guru

Diantara guru-guru kami ada satu orang yang unik, namanya bapak Nazaruddin, beliau mengajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Beliau kami beri gelar dengan sebutan “Bapak Nantik”. Sebabnya adalah karena dalam satu jam, beliau bisa mengucapkan kata-kata “nantik” sampai 80 sampai 90 kali. “Nanti ketika itu, nanti barulah seperti itu, suatu hari nanti” banyak sekali ragam kata nantik yang diucapkannya. Beliau tahu pula kalau beliau itu kami beri gelar “bapak nantik”.

Saya dengan kawan-kawan sering berlomba-lomba  membuat teli (tally) mencatat berapa jumlah kata-kata “nantik” yang beliau ucapkan selama jam pelajaran itu. Ketika jam pelajaran beliau selesai, teman-teman berkata “kamu dapat berapa?”. Lalu dijawab yang lain “saya dapat 83”, “saya dapat 90” dan sebagainya.

Pada suatu ketika, saat kami ujian semester, bapak “nantik” ini mengawas di lokal kami. Beliau sangat marah sekali karena mendapati salah seoarang kawan kami melihat buku catatan. Uwin namanya anak dari buya Marjidan Dt. Tinggi, ketika itu ia kedapatan melihat buku catatan. Bapak Nantik bergegas ke tempat duduk Uwin, disepaknya Uwin itu dari belakang. Sehingga sendal Lily yang dipakai bapak itu terlempar ke atas loteng, pas pula masuk ke lubang loteng yang rusak. Loteng lokal kami terbuat dari anyaman bambu, ada salah satu bagiannya bolong, ke situlah masuk sandal bapak nanti itu.

“Kalau melihat konsep, mau jadi apa kamu nantik” katanya membuat perut kami geli. Sehingga sampai ujian selesai beliau tetap saja memakai sebelah sandal itu sampai selesai, entah bagaimana beliau mengambil nya kembali.

 

Keistimewaan guru-guru kami di MTI Koto Panjang

Di tahun 1973, saat berumur 21 tahun, ketika duduk di kelas 7 MTI (Tarbiyah) Koto Panjang, saya tidak bisa lagi aktif berorganisasi karena kesibukan belajar, praktek mengajar dan juga menghafal untuk persiapan ujian akhir kelas 7. Saya tidak aktif lagi di organisasi Ikatan Pelajar Tarbiyah (IPTI) maupun Gerakan Pelajar Islam Indonesia (GERPII). Namun organisasi dalam masyarakat tetap saya jalankan yaitu mengurus wirid pengajian. Jadi aktifitas saya waktu itu adalah belajar di Tarbiyah Koto Panjang, kemudian mengajar di Tarbiyah Taeh dan mengikuti wirid-wirid pengajian.

Ada yang menarik fikiran saya tentang belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Koto Panjang, yaitu mengenai profil guru-guru kami. Diantranya adalah Almukarram Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang, Buya H. Marjidan Datuak Tinggi, Buya Nawawi Guguak Nunang, Buya Marjohan Datuak Bangso Dirajo, dan buya Amat Sati.

 

1. Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang

Buya H. Muchtar Ongku Lakuang pada malam hari biasanya beliau keluar rumah mengisi undangan wirid pengajian di masjid dan surau-surau.

Dengan Syekh Haji Mukhtar Angku Lakuang di kelas 7 itu saya belajar kitab Jauharul Maknun mata pelajaran Ilmu Balaghah dan kami juga belajar dengan beliau ilmu Istidlal.

Alhamdulillah saya mendapat berkah, mulai dari kelas 3 Tarbiyah Koto Panjang sampai kelas 7 tetap ada belajar dengan Syekh H. Muchtar Angku Lakuang. Barangkali murid-murid beliau yang paling banyak belajar dengannya adalah rombongan kami. Di situlah ilmu yang paling banyak kami dapat dalam pemahaman masalah kitab gundul.

Metoda mengajar beliau adalah menghafal kitab, hafalkan tujuan pelajaran itu seluruhnya. Contohnya belajar ilmu Balaghah kitab Jawahirul Maknun. Satu fasal (topik) beliau terangkan dulu sampai tuntas menggunakan media belajar papan tulis, kemudian bila telah selesai barulah beliau membaca matan membuka kitab. Di situ beliau membahas bacaan matannya dari sisi ilmu Nahwu, ilmu Sharafnya. Itu sangat menarik, sehingga beliau sering membawa itu kepada contoh dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist. Itulah keistimewaan yang saya dapati dari almukarram buya Lokuang itu.

 

2. Buya H. Marjidan Datuak Tinggi

Buya H. Marjidan Dt. Tinggi, beliau adalah orang tua dari sahabat saya buya Rusydi Marjidan. Metode mengajar yang beliau terapkan adalah dengan mengurai setiap kalimat sampai sedetil mungkin. Itu beliau bahas semuanya.

Kurikulum bagi beliau itu memang kurang jalan, namun dalam penggunaan Ilmu Nahwu-Sharafnya sangat mantap, tidak ada orang yang bisa membahasnya sampai sekarang seperti beliau itu. Duduk kaji alif lam itu oleh beliau, duduk maknanya, duduk apa itu sighatnya, guna I’rabnya dan segala macamnya, itu jelas semuanya. Setelah semua jelas dibahas, kemudian barulah beliau menambah pelajaran beberapa baris, sekurang-kurangnya 5 baris, kemudian jadinya kita bisa membaca 10 baris ke bawah dengan cara beliau itu.

Jikalau saya ada duduk berdekatan dengan beliau, beliau suka mengadu pendapat dengan saya tentang penggunaan ilmu Nahwu dan Sharaf.

 

 3. Buya Nawawi

Buya Nawawi ini dikenal juga dengan sebutan sebagai Buya Nawawi Guguak Nunang, karena beliau memang tinggal di jorong Guguak Nunang kenagarian Sungai Talang kecamatan Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota.

 Beliau ini, keilmuan beliau adalah di bidang ilmu Fiqh, praktek Ibadah, Ilmu Arudh, bagaimana ‘Arudh yang 16 itu, selesai oleh beliau tu di luar kepala.

 

4. Buya Marjohan Datuak Bangso Dirajo

Buya Marjohan Datuak Bangso Dirajo ini beliau ketika itu adalah ketua Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) kabupaten 50 Kota. Asal beliau adalah dari kenagarian Simpang Kapuak, kecamatan Mungka. Anak beliau ada bekerja sebagai kepala Tata Usaha di Universitas Syafi’iah Jakarta, namanya Lafahmi Marjohan dan ia juga membuat sekolah di samping Syafi’iyah itu.

 

5. Buya Ahmad Sati

Kalau buya Ahmad Sati ini, contoh-contoh kalimat yang dipelajari dalam kitab beliau larikan ke Alquran dan Hadist. Contoh-contoh dari kita Qatrunnida dan lain-lain, beliau cari bandingannya di alquran dan kemudian beliau ceritakan tentang Asbabun Nuzul ayat tersebut.

Itulah keistimewaan beliau Buya Ahmad Sati itu, jadi menyambung pelajaran beliau dengan mata pelajaran Istidlal yang diajarkan oleh buya lokuang jadinya.

 

6. Ustazd Siradjil Afkar

Ustazd Siradjil Afkar ini beliau mengajar kami mata pelajaran bahasa Arab. Saya hanya belajar 1 semester saja dengan beliau di kelas 4 MTI Koto Panjang, karena beliau pindah tugas ke kabupaten Padang Pariaman, di situ beliau ditugaskan pemerintah menjadi kepala KUA di kecamatan XII kali 6 Lingkuang.

Itu kefasihan berbahasa arab beliau sangat bagus sekali. Beliau ajarkan kepada kami mufradat ayat-ayat dakwah untuk kami hafal. Misalnya surat al-Hujarat cerita tentang mengumpat dan bergunjing, ayyuhibba ahadukum ayyakkula lahma akhiyhi maitan, fakarihtumuhu, itu langsung nada dakwah di sampaikan sastranya kemudian dibahas dan diberi contoh dengan bahasa sastra arab. Beliau dulunya kuliah adalah di fakultas adab di Padang.

Setelah beliau pindah menjadi kepala KUA di Padang Pariaman, maka beliau digantikan oleh alm. Ustazd Fashlil Arif. Beliau juga keluaran fakultas adab. Beliau orang Muhammadiyah yang ditugasi mengajar di MTI Koto Panjang. Beliau menjadi guru bahasa Arab kami dulunya.

Itulah diantara guru-guru saya yang teringat oleh saya untuk menceritakannya.

 

Ujian Akhir Kelas 7

Sekitar bulan Mei tahun 1974 dalam usia 22 tahun, saya menamatkan pendidikan di MTI Koto Panjang. Sebelum dikeluarkan surat tanda kelulusan, kami terlebih dahulu menjalani ujian selama beberapa minggu. Dimulai dengan ujian tulisan untuk seluruh mata pelajaran yang kami pelajari, kemudian dilanjutkan dengan ujian lisan yaitu membaca matan kitab gundul, kemudian ujian Praktek Ibadah dan terakhir adalah ujian Syahadah.

Diantara mata pelajaran yang diujikan secara tulis adalah Tafsir, Hadits, Fikih, Tauhid, Tarekh, Usul Fikih, Nahu, Saraf, Tasauf, Balaghah, Mantiq, Bahasa Arab, bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PMP, Hitungan dagang, ilmu Didaktik dan Metodik mengajar dan lain-lain sebagainya.

Kalau ujian lisan, masing-masing peserta ujian, disuruh membaca kitab yang tidak berbaris atau kitab gundul, ketika itu kita diuji membaca kitab Fiqih kelas tujuh yaitu Kitab Fiqih Al-Mahalli / Qulyubi. Kita disuruh membaca matan sesuai dengan harakat yang betul menurut kaedah tata bahasa Arabnya, baik secara Nahwu, Sharaf, Balaghahnya. Kemudian diterjemahkan, ambil pahamnya, simpulkan, kemudian guru menguji ilmu tata  bahasa mana yang menyangkut dengan kalimat-kalimat yang dibaca itu. Kemudian ditanya pula dalil-dalil sumber kebahasaannya dari syair / Nadzam.

Kalau ujian Praktek Ibadah, yang diujikan adalah semua bab dan fashal di kitab fiqih itu, baik tentang berwudhuk, tayammum, adzan, iqamah, shalat wajib, shalat hajat, shalat jenazah, shalat ‘Ied, shalat gerhana, dan ibadah-ibadah Mahdhah lainnya.

Kemudian dilanjutkan dengan ujian Syahadah. Ujian Syahadah ini sama juga seperti ujian Kopetensi, atau seumpama ujian Munaqasah, namun disini tidak ada karya ilmiyah yang dipertanggung-jawabkan. Di sini guru mencecar peserta ujian dengan macam-macam pertanyaan seputar hukum fiqih, akidah, tauhid, tasauf, ilmu alat seperti Nahwu-Sharaf, Mantiq, Balaghah lengkap dengan ilmu Badi’, Bayan, dan Ma’ani, tidak tinggal pula ilmu ‘Arudhnya.

Lebih dari satu bulan kami ujian. Mata ujian Fiqih saja ada dua minggu lamanya ujian, ditambah lagi praktek ibadah selama dua minggu pula. Pengawas ujiannya ketat, ada dua orang guru yang mengawasi kami.

Murid kelas 7 yang seangkatan dengan kami waktu itu hanya ada sebanyak 13 orang. 3 orang diantaranya tidak lulus, hanya 10 orang saja yang berhasil tamat bersama kami. Di kemudian hari, diantara 10 orang itu yang menjadi PNS hanya dua orang saja, yaitu saya dan almarhumah Rumiati, kemenakan dari Muslim Rasyid, ia guru SMA di Jakarta. Beliau ini adalah cucu dari orang yang punya tanah lokasi tempat MTI Koto Panjang berdiri yaitu H. Rasyidin. Ada satu orang lagi kawan saya, yaitu Himler Usman namanya, ia menjadi orang besar di kemudian hari di Jakarta. Ia orang Air Bangis Pasaman Barat, wafat sekitar bulan Agustus 2020. Diakhir hidupnya ia masih menjabat sebagai salah seorang pengurus di yayasan As-Syafi'iyah Jakarta Timur dan termasuk Dosen di Universitas Syafi’iyah.

Bila tanda kelulusan sudah diterima maka kami tinggal menunggu saja kapan blangko Ijazah kami siap diisi dan ditanda-tangani oleh Syekh H. Muchtar Angku Lakuang. Ijazah itu dapat diterima kalau semua kewajiban administrasi dan keuangan sudah selesai dilunasi. Kalau semua kewajiban sudah selesai, maka Ijazah dapat saja diambil di sembarang waktu, sesuai kesempatan saja. Pada Ijazah itu dilampirkan blangko nilai, surat keterangan lulus sebagai kebolehan untuk mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi yang dibuat oleh pemerintah.

Waktu itu ijazah kami hanya satu, yaitu Ijazah Tarbiyah saja, tidak ada ijazah lainnya. Di lembaran belakang Ijazah Tarbiyah itu dituliskan lampiran nilai-nilai. Kalau sekarang di MTI Koto Panjang kan sudah bisa pula didapatkan Ijazah MTs dan Ijazah Aliyah dari kementerian Agama.

Bagi kawan-kawan yang tidak tamat kelas 7, ia bisa juga mendapatkan Surat Keterangan Belajar dari MTI Koto Panjang. Misalnya ia hanya belajar sampai ujian kelas 7 saja namun tidak lulus, atau ia hanya sampai kelas 5 saja, atau kelas 3 saja, bila mana ia membutuhkan surat keterangan belajar, maka MTI Koto Panjang akan mengeluarkannya.

Kan jikalau di kampung-kampung orang-orang sekolah Agama itu biasanya kan diminta masyarakat untuk menjabat jabatan tertentu atau dia diminta menjadi Petugas Pencatat Pernikahan oleh KUA, biasanya ia membutuhkan surat keterangan itu sebagai pengganti Ijazah.

Tahun itu, sekitar bulan Juni tahun 1974, kawan-kawan sudah mengambil Ijazah sedangkan saya tidak. Hutang-hutang saya masih banyak di Tarbiyah, belum saya bayar. Saya biarkan saja dulu Ijazah itu disimpan di Tarbiyah,  bila nanti sudah ada uang, barulah saya datang lagi untuk mengambilnya. Maklumlah kondisi ketika itu, saya anak yatim, abah sudah meninggal, tidak ada sokongan keluarga untuk mencari nafkah membiayai sekolah saya.

 

Perayaan Pemberian Ijazah kelas 7


Lulusan MTI Koto Panjang yang seangkatan dengan kami pada tahun 1974 tidak ada membuat acara perayaan pemberian Ijazah, sebabnya adalah karena muridnya hanya sedikit, yaitu 10 orang saja yang lulus. Pada tahun berikutnya barulah digelar acara perhelatan perayaan pemberian Ijazah, digabung saja pesertanya yang tahun lalu dan tahun itu.

Saya pun tidak bisa ikut acara perhelatan pemberian Ijazah itu, karena waktu itu saya memang tidak ada uang sebagai iuran untuk membiayai acara. Sedangkan untuk menebus Ijazah saja saya belum mampu, apa lagi untuk membiayai acara perayaan tersebut.

Di sini sedikit saya ceritakan bagaimana bentuk acara perhelatan perayaan pemberian ijazah kelas 7 itu digelar.

Bila tanda kelulusan kelas 7 sudah keluar, maka diadakanlah rapat-rapat kecil oleh guru ataupun murid-murid membincangkan tentang acara perayaan perhelatan pemberian Ijazah. Bila terasa mungkin acaranya diangkat, maka dibentuklah panitianya yang terdiri dari unsur guru, murid senior dan masyarakat sekitar.

Bila muridnya hanya sedikit, maka akan dikumpulkan dulu jumlahnya agak beberapa tahun. Misalnya 2 tahun atau 3 tahun. Bila jumlah peserta yang akan diberi ijazah itu mencapai jumlah ideal sekitar 50 sampai 60 orang maka digelarlah acara pemberian Ijazah.

Lalu panitia bermusyawarah, menentukan hari, berapa biaya yang harus disediakan, bagaimana susunan acara yang akan digelar, siapa saja yang diundang, bagaimana konsumsinya, akomodasinya, transportasi, alat-alat kelengkapan yang dibutuhkan dan sebagainya.

Acara perhelatan ini tidak lagi menjadi acara MTI Koto Panjang, namun menjadi acara Alek Nagari, artinya acara ini adalah perhelatan anak nagari. Tentunya Camat, wali nagari, kepala jorong akan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan acaranya.

Acara perhelatan dimulai dengan arak-arakan. Peserta yang akan diberi Ijazah berbaris dalam satu barisan dengan berpakaian putih, berpeci atau jilbab hitam, celana atau rok hitam dengan selempang kain berwarna merah-putih. Mereka diarak keliling Koto Panjang dengan Orkes Barisan Drumband. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama di Tarbiyah sampai Zuhur. Setelah shalat Zuhur barulah digelar acara pemberian Ijazah.

Keluarga masing-masing murid akan datang ke acara itu bersama keluarga besarnya pula. Kadang mereka juga Mamanggiah atau mengundang orang lain ke acara itu, kemudian makan bersama mereka di situ.

Ketika pemberian Ijazah itu, Buya H. Muchtar Angku Lakuang membacakan suatu Ijab dan yang menerima Ijazah akan membaca qabul untuk menerima Ijazah itu, kemudian diserahkan selembar Ijazah yang dibungkus dengan sampul map.

Sebelum Ijazah itu diserahkan, buya H. Muchtar Angku Lakuang berpesan “Anda-anda yang diberi Ijazah hari ini diwajibkan untuk mengembangkan agama, mendirikan sekolah-sekolah agama, sekurang-kurangnya membuat tempat sembahyang di lereng-lereng atau di jalan godang (jalan yang dilalui orang) katanya.

 

Tradisi Antar-Jemput Murid

Ada suatu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat untuk anak-anak yang belajar mengaji, baik di surau maupun di sekolah Agama, yaitu tradisi “Adat antar-Jemput”.

Jikalau seorang anak akan masuk mengaji maka ia diantar oleh keluarga besarnya ke rumah gurunya untuk diserahkan mengaji dengan cara tertentu, atau gurunya yang diundang ke rumahnya, lalu diserahkan si anak itu untuk mengaji kepada gurunya dengan alua-pasambahan lengkap dengan acara makan-makan.

Demikian juga kalau seorang anak telah selesai belajar, maka keluarganya akan mendatangai gurunya untuk menjemput kembali si anak dengan tatacara adat dalam suatu jamuan makan. Lalu dinyatakanlah oleh orang tua si murid dalam alua-pasambahan bahwa mereka bermaksud untuk menjemput kembali anaknya setelah sekian lama belajar, setelah itu acara ditutup dengan do’a.

Di MTI Koto Panjang biasaya yang mengadakan acara mendoa’a anta-japuik ini adalah wali-wali murid yang berasal dari keluarga terpandang atau orang yang berkemampuan. Acaranya biasanya diadakan setelah acara perayaan pemberian ijazah, tempatnya adalah di rumah Etek Iti saudara perempuan Buya Lokuang yang terletak tidak jauh dari gedung MTI Koto Panjang.

Berganti-gantilah wali murid datang ke situ mengadakan acara menjemput anak lengkap dengan jamuan makan. Losi (sibuk) guru-guru Tarbiyah jadinya karena kekenyangan makan, sama seperti acara barolek (helat). Setiap hari selalu ada wali murid datang menjemput anaknya ke situ, kadang pagi, siang, sore dan sampai malam hari.

Wali murid yang berdekatan rumah, atau berasal dari kampung yang sama, mereka akan datang bersama menjemput anaknya pada hari yang sama ke rumah buya Lokuang. Diundanglah guru-guru Tarbiyah (MTI Koto Panjang), diundang pula murid-murid kelas 7 yang lainnya. Anak-anak Siak sekitar, tetangga, dalam suatu acara jamuan makan.

Contohnya saja buya nawawi Zainal. Beliau menjabat sebagai kepala KUA di salah satu kecamatan di Lima Puluh Kota. Beliau adalah ketua PERTI Kab. Lima Puluh Kota, anaknya saja ada 20 orang semuanya, karena istrinya ada 3 orang. Diantara anaknya itu ada bernama Asral Nawawi, Ahmad Zarawi.

Kalau mau masuk sekolah misalnya, contoh anaknya yang di Taram masuk sekolah ke MTI Koto Panjang. Istrinya yang dua lagi dari Air Tabik dan Padang Jopang juga ikut pula mengantar anaknya itu, sekurangnya 3 bendi dicarternya untuk mengantar anaknya itu ke Koto Panjang. Tiga pula Ketiding besar hadir di tengah jamuan, lengkap isinya dengan nasi, lauk-pauk, sambal, pisang dan ketannya. Ketiga istrinya seiya sekata semuanya. Kemudian dijamunya guru-guru Tarbiyah itu dalam jamuan makan siang, kemudian barulah dilakukan penyerahan anak untuk belajar kepada buya H. Muchtar Angku Lakuang.


***

---------------------------------------------------------------

Baca Selanjutnya...

Riwayat Hidup H. Sudirman Syair Bag. 7


-------------------------------------------------------
Update terakhir
Selasa, 29 Desember 2020
Pukul 21.03 Wib. PM



Posting Komentar

0 Komentar